“Weviana Viona Temui Abah Anang di Cikalongwetan: Kisah Lansia Pencari Cengkeh yang Berharap Bertemu KDM Kini Mengetuk Kepedulian Negeri”

Share

Breakthenews | Kabar Negeri | suaraindonesiatv.com | ApakabarJabar | “Bakti Tanpa Henti” Berdampak Untuk Rakyat” BANDUNG BARAT — Pertemuan antara Weviana Viona dan Abah Anang di Kampung Pasirhaur RT 001/RW 014, Desa Ganjarsari, Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, menjadi kisah yang perlahan mengetuk kepedulian banyak orang.

Di balik kesederhanaan seorang lansia pencari cengkeh yang hidup dalam keterbatasan, tersimpan harapan kecil yang kini ramai diperbincangkan masyarakat, keinginan untuk bertemu dengan sosok yang dikenal sebagai KDM, yakni seorang Gubernur Jawa Barat.

Kisah tersebut tidak hanya menghadirkan potret perjuangan hidup rakyat kecil di usia senja, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kemanusiaan masih hidup di tengah derasnya arus kehidupan modern dan hiruk-pikuk dunia digital yang sering kali lebih sibuk mengejar popularitas dibanding mendengar suara rakyat sederhana.

Abah Anang diketahui tinggal di sebuah rumah sederhana di wilayah Kampung Pasirhaur. Dalam kesehariannya, ia mengumpulkan daun dan cengkeh untuk dijual demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Aktivitas tersebut disebut sudah lama dijalani sebagai bentuk perjuangan hidup di usia lanjut.

Kisah hidupnya mulai menjadi perhatian publik setelah sebuah video yang memperlihatkan dirinya sedang mengumpulkan cengkeh viral di media sosial. Dalam video tersebut disebutkan bahwa cengkeh yang dikumpulkannya dijual dengan harga sekitar Rp2.000 per kilogram.

Perhatian terhadap kisah itu kemudian turut datang dari Weviana Viona atau yang dikenal melalui akun Instagram @weviana.viona31. Sebagai seorang public figur, content creator, dan MC yang cukup aktif di kawasan Purwakarta dan Karawang, Wevi mengaku tergerak untuk kembali mengunjungi Abah Anang usai mendengar kisahnya viral.

Dalam keterangannya kepada media suaraindonesiatv.com, Weviana Viona menjelaskan bahwa awal mula dirinya kembali mendatangi Abah Anang bermula saat ia bersilaturahmi ke rumah saudaranya selepas Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah.

“Iya hari ini Wevi habis ketemu Abah Anang,” ujarnya.

“Jadi awalnya Wevi itu lagi main ke rumah saudara setelah Lebaran Idul Adha, ke rumah Teh Eneng. Teh Eneng cerita, ‘Teh itu Abah Anang viral,’ karena memang sebelumnya Wevi pernah berkunjung juga ke Abah Anang,” tuturnya.

Merasa penasaran, Wevi kemudian bertanya mengenai alasan viralnya sosok Abah Anang.

“Oh viral kenapa teh?” tanyanya.

Menurut penuturan keluarganya, terdapat unggahan video di TikTok yang memperlihatkan Abah Anang sedang mengumpulkan cengkeh untuk dijual demi bertahan hidup.

“Itu ada yang update di TikTok katanya. Si Abah lagi mungutin cengkeh terus dijual, per kilonya Rp2.000,” ungkap Wevi.

Video tersebut kemudian menyentuh hati masyarakat hingga banyak pihak mulai datang memberikan bantuan sosial kepada Abah Anang, mulai dari uang tunai, sembako, minyak goreng, beras, hingga kasur.

“Videonya viral terus ada beberapa yang datang ke situ untuk ngirim donasi, berbentuk uang, sembako, minyak goreng, beras, sama ada yang kirim kasur juga. Karena dulu mah emang keadaannya sangat menyedihkan pisan. Rumahnya juga dulu udah benar-benar kayak gubuk mau reot,” jelasnya.

Keesokan harinya, Wevi memutuskan datang langsung mengunjungi kediaman Abah Anang di Kampung Pasirhaur RT 001/RW 014, Desa Ganjarsari, Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat.

Pertemuan tersebut menjadi momen yang mengharukan karena Abah Anang ternyata masih mengingat dirinya meskipun terakhir kali mereka bertemu sekitar dua tahun lalu.

“Nah terus paginya Wevi berkunjung ke situ, cerita-cerita, karena Abah juga masih ingat sama aku. Padahal aku pernah ke sana sekitar dua tahun lalu, tapi Abah masih ingat,” katanya.

Dalam perbincangan hangat penuh kesederhanaan itu, Abah Anang menyampaikan bahwa kini semakin banyak orang datang mengunjunginya setelah kisah hidupnya viral di media sosial.

“Teh ayeuna Abah loba nu datang kadieu,” kata Abah Anang kepada Wevi.

Namun di balik tutur sederhananya, Abah Anang ternyata menyimpan harapan kecil yang begitu menyentuh hati.

“Abah hoyong panggih sareng Bapak KDM atanapi akrabna Bapak Aing,” tutur Wevi menirukan ucapan Abah Anang.

Harapan sederhana seorang lansia di pelosok kampung itu menjadi simbol bahwa masyarakat kecil masih menyimpan rasa percaya kepada sosok pemimpin yang dianggap dekat dengan rakyat.

Sebelum merekam video dan membagikan kisah tersebut kepada publik, Wevi mengaku terlebih dahulu meminta izin kepada Abah Anang dengan penuh sopan santun.

“Bah ini gak apa-apa divideoin?” tanyanya.

Dengan tenang dan penuh keramahan, Abah Anang menjawab:

“Wios… wios… carioskeun.”

Wevi juga menjelaskan bahwa informasi mengenai latar belakang Abah Anang yang disebut-sebut pernah menjadi veteran perjuangan masa lalu masih perlu dipastikan lebih lanjut melalui komunikasi langsung bersama yang bersangkutan.

“Mungutin daun cengkehnya mah udah lama banget, info dari saudara dan orang setempat. Untuk informasi mengenai veterannya bisa diinfo detailnya nanti diskusi bersama Abahnya langsung,” jelasnya.

Meski kondisi fisiknya sudah renta dan pendengarannya mulai berkurang, Wevi bersyukur Abah Anang masih dapat diajak berkomunikasi dengan baik.

“Alhamdulillah Abah masih bisa diajak komunikasi meskipun harus lebih keras suara saat berkomunikasinya,” ungkapnya.

Di akhir keterangannya, Weviana Viona juga menyampaikan harapan agar kisah Abah Anang dapat sampai kepada KDM serta menjadi perhatian berbagai pihak terkait di wilayah tersebut.

“Semoga beritanya bisa sampai ke Bapak KDM yah A ini,” ucapnya penuh harap.

“Semoga dinas terkait di daerah tersebut bisa memberi bantuan tentang apa yang dibutuhkan Abah Anang,” lanjut Wevi.

Kisah Abah Anang pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang seorang lansia pencari cengkeh di pelosok desa. Lebih dari itu, kisah tersebut menjadi cermin bahwa kemanusiaan masih hidup di tengah masyarakat yang perlahan mulai lelah oleh kerasnya kehidupan dan derasnya arus zaman.

Di tengah dunia yang sering kali lebih cepat menghakimi daripada mendengar, lebih sibuk mencari sensasi daripada memahami kenyataan hidup rakyat kecil, sosok Abah Anang justru menghadirkan pelajaran tentang ketulusan, kesabaran, dan kesederhanaan yang perlahan mulai hilang dari kehidupan modern.

“Kadang Harapan Rakyat Kecil Tidak Meminta Kemewahan, Mereka Hanya Ingin Didengar”

Dari sebuah rumah sederhana di Kampung Pasirhaur, publik kembali diingatkan bahwa harapan rakyat kecil terkadang sangat sederhana. Mereka hanya ingin diperlakukan sebagai manusia yang layak diperhatikan, dihargai, dan dibantu tanpa harus menunggu viral terlebih dahulu.

Kisah Weviana Viona dan Abah Anang menjadi pengingat bahwa kepedulian sosial sejatinya lahir dari langkah kecil yang dilakukan dengan hati.

Sebab pada akhirnya, sebuah negeri tidak hanya dibangun oleh kekuasaan dan pembangunan fisik, tetapi juga oleh hati-hati yang masih mampu menjaga rasa peduli terhadap sesama manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!