Advokat Mila Cheah: Mayoritas Korban Wanita, Tragedi Kereta Bekasi Diduga Akibat Kelalaian Serius di Balik Duka yang Mendalam

Share

Breakthenews | Kabar Negeri | suaraindonesiatv.com | Pristiwa Di Balik Luka Pertiwi | BEKASI –Di negeri yang berdiri di atas kasih seorang ibu, setiap kehilangan seorang perempuan sejatinya adalah kehilangan bagi kemanusiaan itu sendiri.

Dari ruang-ruang sederhana hingga denyut kota yang tak pernah berhenti, para wanita dan ibu telah menjadi penopang kehidupan, menyulam harapan dalam diam, menjaga kehangatan tanpa pamrih, dan menguatkan dunia bahkan saat mereka sendiri kelelahan.

Namun pada Senin malam, 27 April 2026, duka itu datang tanpa aba-aba. Tragedi kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line lintas Cikarang, tidak hanya meninggalkan puing dan luka, tetapi juga merenggut banyak nyawa,yang sebagian besar adalah perempuan, para ibu, para pejuang kehidupan.

Mereka bukan sekadar korban. Mereka adalah anak yang dirindukan, ibu yang menjadi tempat pulang, dan perempuan tangguh yang selama ini menjadi fondasi bagi keluarga mereka. Kehilangan ini bukan hanya milik keluarga yang ditinggalkan, tetapi menjadi luka kolektif bagi bangsa.

Di tengah duka yang mendalam, penghormatan mengalir bagi para wanita dan ibu hebat di seluruh Indonesia, sebagai pengakuan atas kekuatan yang kerap tak terlihat.

Bahwa di balik setiap rumah yang hangat, ada doa yang tak pernah terputus, dan di balik setiap keluarga yang bertahan, ada pengorbanan yang sering kali tak terucap namun begitu besar nilainya.

Hari-hari yang dijalani mungkin tidak selalu mudah.

Ada lelah yang disimpan, air mata yang disembunyikan, dan kekuatan yang terus dipaksakan hadir. Namun di situlah letak kehebatan seorang wanita,tetap berdiri, tetap berjuang, dan tetap mencintai tanpa batas.

Menanggapi tragedi tersebut, praktisi hukum Mila Ayu Dewata Sari, S.H., S.E., CPLA, atau yang dikenal sebagai Mila Cheah, selaku Managing Partner Law Firm MADS & Co, menyampaikan pernyataan tegas yang menyoroti aspek hukum dan tanggung jawab negara.

Ia menilai bahwa peristiwa ini tidak dapat dipandang semata sebagai musibah biasa, melainkan patut diduga mengandung unsur kelalaian serius dalam sistem keselamatan transportasi publik.

“Tragedi kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026 bukan sekadar musibah, tetapi patut diduga sebagai peristiwa yang mengandung unsur kelalaian serius dalam sistem keselamatan transportasi publik,” ujarnya Mila Cheah.

Lebih lanjut, Mila menekankan bahwa fakta mayoritas korban adalah perempuan,para ibu dan pekerja yang menjadi tulang punggung keluarga, menjadikan tragedi ini tidak hanya sebagai kehilangan kemanusiaan, tetapi juga mencerminkan potensi kegagalan perlindungan negara terhadap warganya.

Ia mendesak agar peristiwa ini diusut secara menyeluruh, transparan, dan tanpa kompromi.

Apabila ditemukan adanya kelalaian, maka pihak-pihak yang bertanggung jawab wajib dimintai pertanggungjawaban secara hukum, baik secara perdata maupun pidana.

“Negara tidak boleh abai. Operator dan regulator transportasi memiliki kewajiban hukum untuk menjamin keselamatan setiap penumpang.

Ketika nyawa melayang, tidak boleh ada ruang untuk pembenaran administratif atau alasan teknis semata,” tegasnya.

Selain itu, ia juga mendorong agar hak-hak korban dan keluarga yang ditinggalkan dipenuhi secara layak, termasuk santunan, pendampingan hukum, serta jaminan keadilan yang nyata.

“Ini bukan hanya tentang duka, ini tentang keadilan. Dan keadilan tidak boleh ditunda,” tegasnya di akhir wawancaranya, 28/4/2026).

Di akhir keterangannya, diketahui bahwa Mila Cheah saat ini juga baru diangkat sebagai Wakil Ketua Umum Forum Advokat Spesialis Tipikor (FAST), yang semakin memperkuat perannya dalam mengawal isu-isu penegakan hukum di Indonesia.

Tragedi ini menjadi pengingat bahwa peran perempuan bukan sekadar bagian dari kehidupan, melainkan inti dari keberlangsungan itu sendiri.

Untuk para wanita dan ibu hebat di Indonesia, dunia berdiri lebih kokoh karena Anda. Dan untuk mereka yang telah pergi, doa dan penghormatan akan selalu mengiringi, sementara keadilan harus terus diperjuangkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!