“Lastri: Arwah Kembang Desa” Hadirkan Horor Penuh Luka dan Kisah Mistis, Verayang Ungkap Pengalaman Mencekam saat Syuting di Kuburan Angker Lumajang

Share

| Kabar Negeri | suaraindonesiatv.com |
“Daily Update JAKARTA” Bakti Tanpa Henti Mahakarya Selebriti”– Bukan sekadar menyajikan teror yang memacu adrenalin, “Lastri: Arwah Kembang Desa” hadir sebagai film horor Indonesia yang memadukan kisah luka emosional dengan pengalaman mistis yang dialami para pemain selama proses produksi.

Salah satu yang mencuri perhatian adalah pengakuan Verayang, pemeran Fitri, yang mengungkap pengalaman mencekam saat menjalani syuting di sebuah kawasan pemakaman angker di Lumajang, Jawa Timur. Perpaduan antara cerita yang menyentuh sisi kemanusiaan dan atmosfer horor yang autentik menjadikan film produksi Abelle Pictures ini siap memberikan pengalaman berbeda bagi para penonton saat tayang di bioskop mulai 16 Juli 2026.

Disutradarai oleh Hendry Tivo, film ini mengangkat urban legend yang berasal dari Pati, Jawa Tengah, dengan balutan horor psikologis yang tidak hanya mengandalkan kejutan, tetapi juga menghadirkan cerita tentang luka, kehilangan, dan rahasia masa lalu yang belum terselesaikan.

Film ini dibintangi oleh Hana Saraswati sebagai tokoh utama Lastri, serta didukung oleh jajaran pemain lainnya seperti Gary Iskak, Yama Carlos, Dodit Mulyanto, Debby Sahertian, Nando Hilmy, Rizal Djibran, Ratu Meta, hingga Audy Bella yang juga menjabat sebagai Eksekutif Produser.

Salah satu sorotan dalam film ini datang dari Vera, yang memerankan karakter Fitri, seorang vlogger horor yang memiliki ambisi memburu konten-konten mistis demi meningkatkan popularitas dan jumlah penonton di media digital.

Dalam sesi wawancara, Vera menjelaskan bahwa karakter Fitri merupakan sosok kreator konten yang secara khusus berfokus pada eksplorasi dunia supranatural.

“Sebagai vlogger, jadi kita tuh tugasnya seperti memburu, kayak YouTuber untuk memburu hantu dan kita cari viewers biar kita dapat duit yang lebih besar dari penonton-penonton,” ujar Verayang saat Presscoon Pres, Jum’at (12/6/2026).

Saat dikonfirmasi kembali oleh jurnalis mengenai profesi karakternya sebagai konten kreator, Vera menambahkan bahwa Fitri lebih identik sebagai pemburu fenomena horor.

“Iya, tapi lebih ke horor, kayak ghostbuster gitu,” tambahnya.

Tidak hanya beradu akting dengan Dodit Mulyanto, Vera juga mengungkapkan pengalaman mistis yang dialaminya selama proses syuting yang berlangsung di kawasan pemakaman angker di Lumajang.

Menurut Vera, sebelum pengambilan gambar dilakukan, seluruh pemain dan kru terlebih dahulu menjalani ritual tertentu sebagai bentuk penghormatan terhadap lokasi syuting.

“Tantangannya, sebelum proses syuting kita ada ritual terlebih dahulu. Memang kebetulan kita syuting di tempat kuburan yang lumayan terkenal di daerah Lumajang. Kita syuting sekitar jam 12 malam sampai menjelang subuh,” ungkapnya.

Suasana mencekam di lokasi syuting bahkan meninggalkan pengalaman yang sulit dilupakan bagi Vera.

“Situasi di sana sangat-sangat mencekam. Sampai ada beberapa hal mistis, seperti saya ketempelan, mencium bau-bau seperti bau bangkai, dan kadang juga bau kembang. Pokoknya di sana angker sekali,” tuturnya.

Sementara itu, Hana Saraswati menegaskan bahwa sosok Lastri bukan hanya sekadar arwah yang meneror, tetapi memiliki dimensi emosional yang menjadi inti dari keseluruhan cerita.

“Lastri bukan sekadar sosok menyeramkan. Dia adalah luka yang tidak pernah sembuh. Dan itu yang membuat dia terus ‘hidup’,” ujar Hana Saraswati.

Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa karakter Lastri hadir sebagai simbol rasa sakit dan ketidakadilan yang terus membekas, menjadikan film ini lebih dari sekadar tontonan horor biasa.

Senada dengan Hana, Audy Bella menilai bahwa “Lastri: Arwah Kembang Desa” menawarkan pengalaman berbeda dibandingkan film horor kebanyakan.

“Penonton bukan cuma akan takut. Mereka akan ikut merasa. Dan justru itu yang membuat film ini berbeda,” kata Audy Bella.

Sebagai Eksekutif Produser, Audy meyakini bahwa perpaduan unsur horor dengan kedalaman emosi menjadi kekuatan utama film ini, sehingga penonton tidak hanya dikejutkan oleh adegan mencekam, tetapi juga diajak memahami penderitaan yang melatarbelakangi teror yang terjadi.

Diproduksi oleh Abelle Pictures, “Lastri: Arwah Kembang Desa” berupaya menghadirkan warna baru dalam perfilman horor Indonesia melalui kekuatan cerita, karakter yang kompleks, serta nuansa lokal yang kental dari legenda masyarakat.

Dengan menggabungkan urban legend Nusantara, pengalaman mistis nyata selama proses produksi, serta kisah emosional tentang luka yang belum sembuh, “Lastri: Arwah Kembang Desa” hadir sebagai film horor yang tidak hanya menawarkan ketakutan sesaat, tetapi juga meninggalkan pesan tentang kehilangan, trauma, dan sisi kemanusiaan yang tersembunyi di balik setiap teror.

Mulai 16 Juli 2026, penonton Indonesia akan diajak menyelami misteri kelam Lastri, sebuah kisah yang membuktikan bahwa terkadang, hal paling menakutkan bukanlah sosok yang datang dari alam lain, melainkan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!