“Loka Karya Kreasi Singaperbangsa Lodaya Indonesia Hidupkan Sejarah Karawang, Kang Pipik Dorong Regenerasi Generasi Muda dan Penguatan Identitas Budaya di Tengah Modernisasi”

Share

Berita Update | Kabar Jabar | suaraindonesiatv.com | Kabar Update | Jabartimenews | Di tengah pesatnya perkembangan industri dan modernisasi di Kabupaten Karawang, upaya menjaga dan merawat identitas budaya daerah terus menjadi perhatian berbagai elemen masyarakat. Seni tradisi tidak sekadar menjadi pertunjukan artistik, tetapi juga menjadi sarana penting untuk merawat sejarah, memperkuat nilai-nilai leluhur, serta menjaga jati diri masyarakat di tengah perubahan zaman.

Semangat tersebut tercermin dalam kegiatan Loka Karya Jaipongan Kreasi Singaperbangsa yang digelar di Swiss-Belinn Karawang, Minggu (8/3/2026). Kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi budaya yang mempertemukan para pelaku seni, budayawan, komunitas budaya, hingga tokoh masyarakat yang memiliki perhatian terhadap pelestarian budaya di Karawang.

Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh LSM Lodaya Indonesia sebagai bentuk komitmen untuk mengangkat kembali sejarah dan identitas budaya daerah melalui seni pertunjukan.

Dalam sambutannya yang diunggah melalui kanal media sosial pribadinya, Pipik Taufik Ismail menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan yang melibatkan para pelaku seni di Karawang tersebut.

Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan momentum penting untuk terus menjaga dan mengembangkan warisan budaya daerah.

“Tapi yang pasti ini acara luar biasa. Saya bisa pastikan beliau ini bukan karena teman kecil ya, tapi salah satu tokoh Karawang yang memiliki komitmen terhadap budaya Indonesia, khususnya budaya Sunda, dan kemajuan budaya di Karawang sangat luar biasa,” ujar Kang Pipik di hadapan para undangan yang hadir.

Dalam suasana penuh keakraban, Kang Pipik juga menyampaikan candaan yang disambut hangat oleh para seniman yang hadir.

“Kudunamah diberi hadiah naon nya, hadiah novel atau naon nya,” ucapnya yang langsung mengundang tawa para undangan.

Sementara itu, Ketua LSM Lodaya Indonesia, Nace Permana, menilai kehadiran Kang Pipik di tengah para seniman merupakan bentuk perhatian terhadap perkembangan seni dan budaya daerah.

Menurutnya, pertemuan tersebut juga menjadi ruang bagi para seniman untuk dapat menyampaikan aspirasi secara langsung kepada wakil rakyat yang hadir dalam kegiatan tersebut.

“Di sini Pak Dekan juga paham kenapa ada politisi hadir di sini. Bukan untuk kepentingan politik, tapi agar teman-teman seniman yang ada di sini bisa sama-sama sowan dan menyampaikan aspirasinya,” kata Kang Nace.

Dalam kesempatan itu, Kang Nace juga menyampaikan gurauan yang disambut gelak tawa para hadirin.

“Lamun teu dipasihan mah gebuk,” ujarnya sambil tersenyum di hadapan para peserta yang hadir.

Lebih lanjut, Kang Nace berharap para seniman dapat terus diperhatikan dan diperjuangkan melalui kebijakan daerah, khususnya dalam upaya meningkatkan harkat dan kesejahteraan pelaku seni di Jawa Barat.

“Kang Pipik ini semuanya seniman yang harus kita galang. Bagaimana kita bersama-sama mengangkat harkat teman-teman seniman di Jawa Barat melalui Perda Kemajuan Kebudayaan di Provinsi Jawa Barat,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa dukungan terhadap kegiatan seni dan budaya perlu terus diperluas di berbagai daerah.

“Kalau nanti diundang sama Garut dan Ciamis, Kang Pipik tidak boleh nolak ya,” ujarnya yang kembali disambut hangat oleh para seniman yang hadir.

Ketua LSM Lodaya Indonesia, Nace Permana, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan ruang ekspresi bagi para seniman sekaligus menjadi upaya memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga warisan budaya.

“Jaipong Kreasi Singaperbangsa ini merupakan karya yang dipersembahkan oleh para pelaku seni budaya Karawang. Tujuannya untuk mengangkat nilai sejarah serta memperkuat identitas budaya daerah melalui seni tari,” ujarnya.

Mengangkat Sejarah Singaperbangsa.

Dalam kesempatan tersebut, Kang Pipik Taufik Ismail turut memberikan apresiasi terhadap konsep pertunjukan yang dinilai mampu mengangkat sejarah peradaban Karawang melalui seni tari.

“Iyah, jadi untuk jawaban yang pertama ini tentunya sangat jelas yah kegiatan loka karya Jaipongan Kreasi Singaperbangsa yang dipersembahkan oleh LSM Lodaya ini sangat-sangat jelas mengangkat budaya sejarah peradaban di Karawang, dimana cikal bakal Karawang. Dari namanya Singaperbangsa itu sudah sangat tematik. Tarian-tarian yang ditampilkan benar-benar memperlihatkan sejarah perjalanan Singaperbangsa Karawang,” ujarnya saat sesi wawancara seusai kegiatan.

Ia menilai pertunjukan tersebut memiliki konsep koreografi yang kuat dan mampu menggambarkan perjalanan sejarah daerah secara artistik.

“Ini sangat luar biasa dan keren sekali. Cara pemikiran koreografernya dan konsepnya juga sangat luar biasa,” tambahnya.

Nama Singaperbangsa sendiri dikenal sebagai tokoh penting dalam sejarah awal Karawang. Melalui konsep Jaipong Kreasi Singaperbangsa, perjalanan sejarah tersebut diangkat kembali dalam bentuk ekspresi seni yang menggambarkan nilai-nilai perjuangan dan perjalanan peradaban daerah.

Identitas Budaya Sunda Harus Dijaga.

Kang Pipik menegaskan bahwa identitas budaya merupakan bagian penting yang harus terus dijaga oleh masyarakat, terutama di wilayah Jawa Barat yang memiliki akar budaya Sunda yang kuat.

“Ya pasti yah mengenai identitas budaya itu. Apalagi kita tahu sekarang bahwa Gubernur Jawa Barat sangat fokus terhadap budaya Sunda di wilayah Jawa Barat, baik dari sisi adat, perilaku maupun nilai-nilai leluhur kita. Bahkan ciri khas seperti iket Sunda juga semakin terlihat,” jelasnya.

Ia menilai sejarah panjang Karawang menjadi bagian penting yang harus terus dipertahankan oleh masyarakat.

“Sejarah panjang Karawang ini harus kita pertahankan. Salah satu benteng kekuatan budaya Jawa Barat adalah aktivitas dari LSM Lodaya ini yang sangat luar biasa,” ujarnya.

Menurutnya, Karawang memiliki banyak budayawan serta pelaku seni yang menjadi kekuatan penting dalam menjaga keberlangsungan budaya daerah.

“Di Karawang ini banyak sekali budayawan dan pelaku seni budaya yang hebat. Itu adalah modal besar untuk menjaga peradaban budaya mereka. Termasuk kita sebagai pemangku kebijakan dan tokoh masyarakat juga harus berperan aktif dalam menjaga nilai-nilai leluhur bangsa agar jangan sampai hilang,” tegasnya.

Pendidikan Jadi Kunci Regenerasi Budaya.

Dalam kesempatan tersebut, Kang Pipik juga menyoroti pentingnya peran dunia pendidikan dalam mengenalkan budaya kepada generasi muda.

Menurutnya, generasi yang tidak mengenal budaya sendiri menjadi pekerjaan rumah bersama bagi masyarakat.

“Memang ini menjadi PR ketika ada generasi muda yang tidak mengenal budaya sendiri. Tapi di Jawa Barat sekarang sudah mulai diterapkan di sekolah-sekolah, seperti penggunaan pangsi, ekstrakurikuler bahasa Sunda, pencak silat, jaipongan, dan berbagai seni lainnya untuk regenerasi generasi muda,” katanya.

Ia berharap nilai-nilai budaya tetap diajarkan hingga jenjang pendidikan menengah agar generasi muda tetap mengenal sejarah serta bahasa daerahnya.

“Program pendidikan jangan sampai terlepas. Paling tidak sampai sekolah menengah nilai-nilai Sunda seperti sejarah Sunda dan bahasa Sunda tetap ada,” ujarnya.

Ia juga berharap pengembangan kebudayaan mendapat dukungan dari kebijakan pendidikan serta alokasi anggaran yang memadai.

“Saya berharap peningkatan kebudayaan sekarang sudah masuk ke ranah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Semoga ini juga menyangkut peningkatan kualitas pendidikan dan menjadi harapan untuk regenerasi generasi muda,” katanya.

Menurutnya, pembinaan para budayawan dan pelaku seni juga perlu mendapatkan perhatian melalui kebijakan anggaran yang jelas.

“Ya tinggal bagaimana pos-pos anggaran untuk pembinaan budayawan juga bisa dipikirkan bersama. Bagaimana memajukan kebudayaan, seniman, para pelaku seni, serta peminat generasi muda supaya tetap berkesinambungan. Karena budaya adalah warisan leluhur yang harus kita jaga bersama,” ujarnya.

Jaipongan Jadi Ciri Khas Karawang.

Kang Pipik menilai seni Jaipongan telah menjadi salah satu identitas budaya yang melekat dengan Karawang.

“Jaipong itu kan sudah menjadi ciri khas Karawang. Kalau soal identitas budaya, Jaipongan juga harus benar-benar diangkat. Salah satunya oleh LSM Lodaya melalui Kreasi Singaperbangsa Karawang ini yang sangat luar biasa,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa karya tersebut merupakan bagian dari rangkaian karya budaya yang telah dihadirkan sebelumnya.

“Ini juga karya yang ketiga. Sebelumnya ada Bedog Lubuk, Nyai Ronggeng, dan sekarang Singaperbangsa. Ini adalah salah satu cara menjaga eksistensi budaya dari warisan Jaipongan, termasuk kendangnya,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan harapan agar pengembangan seni budaya dapat diperkuat melalui dunia akademik.

“Bahkan ada upaya agar di Universitas Singaperbangsa Karawang ada program studi atau fakultas seni dan budaya. Ini upaya yang sangat luar biasa. Kami juga sudah bertemu dengan dekan di Unsika dan siap saling support untuk mendorong adanya fakultas seni dan budaya di Kabupaten Karawang,” katanya.

Industri Didorong Dukung Pelaku Seni.

Sebagai daerah industri dengan ribuan perusahaan, Kang Pipik juga mendorong agar sektor industri ikut mendukung para pelaku seni dan budaya di Karawang.

Menurutnya, pemerintah daerah bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dapat membangun kolaborasi dengan dunia industri agar kegiatan budaya juga mendapat ruang dalam berbagai kegiatan perusahaan.

“Di Karawang ini ada ribuan perusahaan. Dari ribuan perusahaan itu seharusnya bisa mengakomodir pelaku-pelaku budaya dalam kegiatan mereka, baik kegiatan bulanan, semesteran maupun tahunan seperti gathering perusahaan,” ujarnya.

Ia berharap perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Karawang juga memberikan ruang bagi seni budaya lokal.

“Kalau ada kegiatan perusahaan, tampilkan juga budaya lokal, jangan hanya budaya modern saja. Bayangkan jika perusahaan-perusahaan itu dalam setahun menampilkan pelaku seni Karawang, itu akan sangat luar biasa,” katanya.

Selain seni pertunjukan, ia juga menilai seni rupa dapat menjadi bagian dari penguatan ekonomi kreatif para seniman daerah.

“Para seniman lukis juga bisa menjual karya mereka. Perusahaan-perusahaan bisa membeli karya lukisan dari pelukis Karawang. Dengan jumlah perusahaan yang sangat banyak, itu bisa menjadi peluang ekonomi yang besar bagi para seniman,” jelasnya.

Ia juga mendorong agar instansi pemerintah dapat bekerja sama dengan hotel, kafe, maupun ruang publik untuk menampilkan karya seni lokal.

“Instansi pemerintah bisa bekerja sama dengan hotel, kafe, atau ruang publik untuk menampilkan karya para pelukis Karawang. Jadi bukan hanya fokus pada UMKM saja, tapi sektor seni budaya juga harus kita perhatikan,” tambahnya.

Tantangan Globalisasi Budaya.

Di tengah perkembangan globalisasi, Kang Pipik mengingatkan pentingnya kesadaran generasi muda untuk mengenal budaya sendiri.

Ia mencontohkan bahwa banyak masyarakat luar negeri justru tertarik mempelajari budaya Indonesia, termasuk seni tradisional seperti gamelan, angklung, hingga tari Jaipongan.

“Tadi juga disampaikan oleh akademisi dari ISBI Bandung bahwa banyak kampus di luar negeri yang memiliki sanggar seni dan mempelajari budaya Indonesia seperti gamelan, angklung, hingga tari Jaipongan,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut seharusnya menjadi motivasi bagi generasi muda Indonesia untuk lebih mencintai budaya sendiri.

“Orang luar negeri saja mau mempelajari budaya Indonesia, masa kita tidak. Jangan sampai nanti 20 atau 30 tahun ke depan anak-anak kita kalau ingin belajar Jaipong justru harus ke luar negeri. Itu kan lucu,” katanya.

Ia menegaskan bahwa menjaga budaya merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.

“Pesan saya, tolong jaga identitas budaya bangsa kita. Kalau bukan kita siapa lagi,” ujarnya.

Menurutnya, para pemangku kebijakan, tokoh masyarakat, serta berbagai elemen daerah harus peka dan memberikan dukungan terhadap pelestarian budaya.

“Jangan sampai nanti anak-anak kita kalau ingin belajar Jaipongan justru harus ke Amerika atau negara lain. Itu identitas bangsa kita sendiri. Jaipongan, wayang golek, itu adanya di Indonesia,” tegasnya.

Meski saat ini teknologi memungkinkan generasi muda mempelajari budaya melalui media sosial dan berbagai platform digital, ia menilai akar budaya tetap harus dijaga di tanah kelahirannya.

Budaya Gotong Royong di Bulan Ramadhan.

Kegiatan budaya tersebut juga berlangsung bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, yang menurut Kang Pipik menjadi momentum untuk memperkuat nilai kebersamaan di tengah masyarakat.

“Di bulan Ramadhan kita melihat banyak kegiatan berbagi takjil, buka puasa bersama, santunan anak yatim, dan berbagai kegiatan sosial lainnya. Itu adalah identitas bangsa Indonesia yaitu semangat gotong royong dan kebersamaan,” ujarnya.

Ia menilai aktivitas sosial selama Ramadhan melibatkan banyak unsur masyarakat, mulai dari komunitas hingga organisasi kemasyarakatan.

“Banyak komunitas berbagi takjil di jalan-jalan, mulai dari komunitas motor, perusahaan, LSM, ormas, partai politik hingga Karang Taruna. Itu menunjukkan bahwa nilai gotong royong masih sangat hidup di Karawang,” katanya.

Menurutnya, kegiatan seni budaya juga dapat berjalan berdampingan dengan suasana Ramadhan melalui konsep ngabuburit budaya yang diisi dengan pertunjukan seni.

“Pagelaran seni tetap bisa berjalan dengan konsep ngabuburit budaya. Seni dan budaya juga bisa menjadi bagian dari kegiatan masyarakat selama Ramadhan,” ujarnya.

Melalui kegiatan Jaipong Kreasi Singaperbangsa, para pelaku seni berharap kebudayaan tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi masa depan untuk terus menjaga dan melestarikan identitas budaya Karawang.

Di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi, seni tradisi seperti Jaipongan menjadi pengingat bahwa sebuah daerah tidak hanya dibangun oleh kemajuan ekonomi dan industri, tetapi juga oleh kekuatan nilai, sejarah, dan jati diri budayanya.

Karawang yang dikenal sebagai kawasan industri nasional, sesungguhnya juga menyimpan kekayaan peradaban yang panjang.

Dari tokoh sejarah seperti Singaperbangsa hingga lahirnya berbagai karya seni tradisi, semuanya menjadi bagian dari fondasi identitas masyarakat yang tidak boleh tergerus oleh zaman.

Karena itu, pelestarian budaya tidak cukup hanya menjadi tanggung jawab para seniman dan budayawan, tetapi juga membutuhkan dukungan dari pemerintah, dunia pendidikan, sektor industri, serta seluruh elemen masyarakat.

Bagi Kang Pipik, menjaga budaya berarti menjaga masa depan bangsa.

Sebab di dalam setiap gerak tari Jaipongan, denting kendang, hingga nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur, tersimpan pesan tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan ke mana arah peradaban bangsa ini akan melangkah.

Jika budaya terus dijaga, maka identitas akan tetap berdiri tegak.

Dan selama generasi muda masih mau belajar, mencintai, serta merawat warisan leluhur, maka kebudayaan tidak akan pernah hilang, melainkan akan terus hidup, berkembang, dan menjadi kebanggaan bangsa Indonesia di mata dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!