Breakthenewshukum | Kabar Negeri | suaraindonesiatv.com | Apakabaribukota | “Bakti Tanpa Henti” Di Balik Luka Keadilan Anak Bangsa” JAKARTA — Tragedi Kramat Jati pada 17 Agustus 2026 mengubah momentum Hari Kemerdekaan menjadi hari kehilangan bagi sebuah keluarga setelah Ananda Hammamamshidqi Hammammuthi, siswa MAN 6 Jakarta, meninggal dunia akibat kecelakaan tragis di kawasan Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, saat dalam perjalanan menuju sekolah untuk mengikuti upacara Hari Kemerdekaan.
Dalam surat terbukanya, Mila Ayu Dewata Sari, S.H., S.E., CPLA., menyampaikan suara keluarga korban dengan duka mendalam atas meninggalnya Hammam. Ia menegaskan bahwa Hammam seharusnya berada di barisan upacara bersama teman-temannya, mengenakan seragam putih, menghormati Sang Merah Putih, kemudian pulang ke rumah.
Namun, Hammam tidak pernah sampai ke sekolah dan tidak pernah kembali pulang.
“Hammam seharusnya berdiri di barisan upacara, bukan terbaring untuk selamanya,” demikian inti pernyataan Mila Ayu Dewata Sari dalam surat terbukanya, menggambarkan kehilangan mendalam yang dialami keluarga Hammam pada momentum Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Dalam pernyataannya kepada media, Mila menyampaikan bahwa tragedi tersebut semakin menyayat hati karena Hammam merupakan putra pertama dari rekan sejawatnya, almarhumah Desi Hadi Saputri, S.H., M.H., yang disebut baru tujuh bulan sebelumnya meninggal dunia.
Mila menuturkan, Hammam merupakan anak yang baik, sopan dan saleh. Sebagai anak pertama, Hammam juga menjadi harapan sekaligus calon penerus keluarganya.
“Hari ini, harapan itu telah pergi,” ungkap Mila dalam surat terbukanya, menyampaikan besarnya kehilangan yang dirasakan keluarga.
Menyikapi tragedi tersebut, Mila menegaskan bahwa pihaknya memahami kecelakaan harus diperiksa berdasarkan fakta dan bukti. Ia juga menyatakan tidak hendak menuduh siapa pun sebelum proses hukum membuktikannya.
Namun, Mila meminta agar tragedi yang menimpa Hammam tidak berhenti hanya dengan menyebutnya sebagai kecelakaan.
“Kami memahami bahwa kecelakaan harus diperiksa berdasarkan fakta dan bukti. Kami tidak hendak menuduh siapa pun sebelum proses hukum membuktikannya. Namun kami meminta agar tragedi ini tidak berhenti hanya dengan menyebutnya sebagai kecelakaan,” tegas Mila dalam surat terbukanya.
Mila meminta kondisi kawasan Pasar Kramat Jati diperiksa secara menyeluruh. Menurutnya, pemeriksaan perlu mencakup berbagai kondisi yang berkaitan dengan lokasi dan kemungkinan faktor yang berhubungan dengan terjadinya kecelakaan tersebut.
Beberapa hal yang diminta untuk diperiksa antara lain dugaan aktivitas perdagangan di bahu dan/atau badan jalan, aliran air atau limbah ke badan jalan, kondisi permukaan jalan, drainase, CCTV, keterangan saksi, laporan masyarakat, serta kemungkinan adanya kecelakaan sebelumnya dengan kondisi serupa.
Mila juga menegaskan bahwa apabila terdapat pihak yang mengetahui adanya kondisi berbahaya tetapi tidak melakukan tindakan yang semestinya, maka dugaan kelalaian maupun pembiaran harus diperiksa dan dipertanggungjawabkan sesuai hukum.
“Apabila terdapat pihak yang mengetahui adanya kondisi berbahaya namun tidak melakukan tindakan yang semestinya, maka dugaan kelalaian maupun pembiaran harus diperiksa dan dipertanggungjawabkan sesuai hukum,” kata Mila.
Meski meminta adanya pemeriksaan secara menyeluruh, Mila kembali menegaskan bahwa pihaknya tidak meminta siapa pun dihukum tanpa bukti.
“Kami tidak meminta siapa pun dihukum tanpa bukti. Kami hanya meminta kebenaran ditemukan dan hukum ditegakkan,” tegasnya.
Menurut Mila, bagi keluarga Hammam, peristiwa tersebut bukan sekadar perkara. Tragedi itu merupakan kehilangan seorang anak yang tidak pernah kembali pulang.
Hammam seharusnya berdiri di barisan upacara.
Bukan terbaring untuk selamanya.
Ia seharusnya pulang dengan seragam putihnya.
Bukan keluarganya yang mengantarkan jenazahnya ke peristirahatan terakhir.
Pesan tersebut menjadi bagian paling mendalam dari surat terbuka Mila, sekaligus menggambarkan harapan agar tragedi yang menimpa Hammam tidak kembali terjadi kepada anak maupun keluarga lainnya.
“Kami tidak ingin ada Hammam berikutnya. Jangan menunggu korban berikutnya untuk bertindak,” ujar Mila.
Mila kemudian menyampaikan doa agar Allah SWT mengampuni segala dosa almarhum, menerima amal baiknya, melapangkan tempat peristirahatannya, serta mempertemukannya kembali dengan ibundanya di tempat terbaik di sisi-Nya.
“Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa Almarhum, menerima amal baiknya, melapangkan tempat peristirahatannya, dan mempertemukannya kembali dengan ibundanya di tempat terbaik di sisi-Nya,” tutur Mila.
Surat terbuka tersebut kemudian ditutup dengan doa dan Al-Fatihah untuk almarhum Ananda Hammamamshidqi Hammammuthi.

Al-Fatihah untuk Almarhum Ananda Hammamamshidqi Hammammuthi.
Bagi Mila Ayu Dewata Sari, pesan yang disampaikan melalui surat terbuka tersebut bukanlah tuntutan untuk menjatuhkan hukuman tanpa bukti, melainkan permintaan agar fakta dan kebenaran atas tragedi Kramat Jati dapat ditemukan melalui proses yang semestinya.
“KEADILAN UNTUK HAMMAM.”
Jakarta, 17 Agustus 2026
Hormat kami,
Mila Ayu Dewata Sari, S.H., S.E., CPLA.
