Breakthenewsparlemen | Kabar Negeri | suaraindonesiatv.com | ApakabarJateng | YOGYAKARTA — Dari ruang aspirasi, disiplin organisasi hingga pengabdian kepada masyarakat, jejak M. Lisman Puja Kesuma atau yang akrab disapa Bang Puja kini menjadi bagian dari amanah yang harus diteruskan keluarga besar Partai Gerindra Daerah Istimewa Yogyakarta. Kepergian politisi muda berusia 34 tahun itu meninggalkan duka mendalam sekaligus refleksi mengenai pentingnya kaderisasi, kebersamaan, dan keberlanjutan pengabdian politik di DIY.
Dalam wawancara daring eksklusif kepada media, Anggota DPRD Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Ika Damayanti Fatma Negara, menyampaikan bahwa Bang Puja merupakan sosok politisi muda yang memiliki semangat besar dalam menjalankan aktivitas organisasi dan pengabdian kepada masyarakat.
Ika menggambarkan Bang Puja sebagai kader yang tidak hanya hadir dalam ruang politik formal, tetapi juga dikenal melalui kepeduliannya terhadap masyarakat dan kesediaannya membantu ketika dibutuhkan.
“Beliau adalah sosok politisi muda yang penuh semangat, memiliki respect, selalu ringan tangan untuk membantu masyarakat. Kami seluruh kader Gerindra teramat sangat kehilangan sosok yang mungkin tidak akan pernah tergantikan di Gerindra,” ujar Ika, menyuarakan kedalaman kehilangan keluarga besar Gerindra DIY atas berpulangnya Bang Puja.
Pernyataan tersebut sekaligus memberikan garis penekanan bahwa usia muda tidak menghapus arti sebuah pengabdian. Dalam waktu yang relatif singkat, Bang Puja telah menjadi bagian dari perjalanan organisasi dan politik Gerindra di DIY.
Bang Puja diketahui mengemban amanah sebagai Bendahara DPD Partai Gerindra DIY sekaligus Ketua Fraksi Gerindra DPRD DIY. Kepergiannya membuat keluarga besar partai kehilangan salah satu kader muda yang selama ini ikut mengambil bagian dalam dinamika organisasi dan kerja politik di tingkat daerah.
Di tengah kabar duka tersebut, Ika juga meluruskan informasi mengenai pembangunan kantor partai yang sebelumnya dikaitkan dengan perjalanan organisasi Bang Puja. Ia menegaskan bahwa kegiatan yang dimaksud bukan peletakan kantor DPD Partai Gerindra DIY, melainkan peletakan batu pertama pembangunan kantor DPC Partai Gerindra di Sleman dan Gunungkidul.
“Bukan peletakan kantor DPD, Mas. Tapi peletakan batu pertama kantor DPC Sleman dan Gunung Kidul. Ini juga mau lanjut Kulon Progo, Bantul dan Kota Yogyakarta,” jelas Ika, memberikan penegasan mengenai rangkaian pembangunan kelembagaan Partai Gerindra di sejumlah wilayah DIY.
Bagi Ika, pembangunan kantor partai tidak berhenti pada makna fisik maupun administratif. Keberadaan kantor justru memiliki fungsi sebagai ruang organisasi yang mempertemukan kader, gagasan, diskusi, serta aspirasi untuk kemudian ditata menjadi bagian dari kerja politik yang lebih terarah.
“Kantor partai adalah tempat untuk ruang diskusi dan juga menampung ide/aspirasi kader agar tertib dan tertata, hal ini menunjukkan disiplin partai,” tegas Ika, menempatkan kantor partai sebagai ruang yang dapat membentuk keteraturan sekaligus kedisiplinan dalam kehidupan organisasi.
Ia kemudian menggarisbawahi bahwa gagasan yang lahir dari ruang diskusi tersebut tidak cukup berhenti sebagai aspirasi. Setiap ide perlu disusun dan diterjemahkan menjadi formula program yang sistematis sehingga memiliki manfaat nyata bagi masyarakat.
“Sehingga dari ide-ide tersebut disusun menjadi sebuah formula untuk program yang sistematis, yang bermanfaat untuk masyarakat DIY,” lanjut Ika, memberikan garis penekanan bahwa proses kaderisasi dan organisasi pada akhirnya harus bermuara pada pengabdian kepada masyarakat.
Pemikiran tersebut menempatkan kantor partai bukan sekadar sebagai tempat berkumpulnya struktur organisasi, melainkan sebagai ruang untuk membangun budaya diskusi, menata aspirasi, dan mengolah gagasan menjadi program. Di titik inilah kaderisasi memperoleh makna yang lebih luas karena kader tidak hanya dipersiapkan untuk menjalankan struktur, tetapi juga untuk memahami kebutuhan masyarakat dan menerjemahkannya ke dalam kerja pengabdian.
Dalam konteks itu, jejak Bang Puja menjadi bagian dari perjalanan organisasi yang tidak berhenti bersama kepergiannya. Gagasan, semangat kerja, serta kepedulian yang pernah ditunjukkan menjadi bagian dari nilai yang dapat diteruskan oleh kader-kader Gerindra DIY.
Ika juga menyampaikan informasi mengenai penyebab kepergian Bang Puja.
“Kepergian beliau karena serangan jantung pasca operasi sinus,” kata Ika, menyampaikan kabar duka tersebut dalam wawancara kepada media.
Kepergian itu meninggalkan ruang kehilangan yang besar bagi keluarga, sahabat, rekan kerja, maupun keluarga besar Partai Gerindra DIY. Namun, di balik duka tersebut terdapat pesan mengenai pentingnya menjaga kesinambungan pengabdian dan kekuatan kebersamaan organisasi.
Ika menitipkan pesan kepada seluruh kader Gerindra DIY agar kehilangan tersebut tidak memutus semangat perjuangan, melainkan menjadi dorongan untuk semakin kuat dalam menjalankan pengabdian kepada masyarakat.
“Kita harus semakin kuat untuk memberikan pengabdian terbaik, untuk keluarga yang ditinggalkan semoga diberi kekuatan dan ketabahan, kita tetap menjadi keluarga besar,” pesan Ika, meneguhkan kembali pentingnya persatuan dan kebersamaan keluarga besar Gerindra DIY.
Pesan tersebut sekaligus menjadi refleksi bahwa kaderisasi bukan sekadar proses regenerasi dalam struktur politik. Kaderisasi juga merupakan proses menjaga nilai, gagasan, kedisiplinan, kepedulian sosial, dan semangat pengabdian agar tetap hidup meskipun sosok yang pernah menjalankannya telah tiada.
Bang Puja telah meninggalkan perjalanan hidupnya di usia 34 tahun. Namun, ruang yang pernah ia isi bersama para kader, gagasan yang pernah dibangun, serta semangat pengabdian yang pernah ia tunjukkan menjadi bagian dari catatan yang tidak berhenti pada sebuah kehilangan.
Dari pembangunan kantor DPC di Sleman dan Gunungkidul yang akan dilanjutkan ke Kulon Progo, Bantul, dan Kota Yogyakarta, hingga gagasan mengenai kantor partai sebagai ruang diskusi dan aspirasi, seluruh rangkaian tersebut memberikan gambaran mengenai pentingnya membangun organisasi yang tertib, disiplin, terbuka terhadap gagasan, serta berorientasi pada manfaat bagi masyarakat.
Pada akhirnya, kepergian Bang Puja menjadi sebuah titik hening bagi keluarga besar Gerindra DIY. Tetapi dari titik hening tersebut pula muncul pesan untuk terus memperkuat kebersamaan, menjaga kaderisasi, menata aspirasi, dan meneruskan pengabdian.
Bagi keluarga yang ditinggalkan, semoga ketabahan menyertai setiap langkah. Bagi seluruh kader Gerindra DIY, pesan Ika menjadi pengingat bahwa perjuangan organisasi tidak berhenti pada kepergian seorang kader, melainkan terus berjalan melalui nilai dan pengabdian yang diwariskan.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Semoga almarhum M. Lisman Puja Kesuma mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT dan seluruh keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta ketabahan.
Selamat jalan, Bang Puja. Usia boleh berhenti di angka 34, tetapi jejak gagasan, kebersamaan, dan pengabdian dapat terus hidup melalui mereka yang memilih untuk melanjutkan amanah perjuangan.
