| Kabar Negeri | suaraindonesiatv.com | Merawat Kebhinekaan Tunggal Ika Di Bumi Pangkal Perjuangan | KARAWANG — Di tengah keberagaman bangsa Indonesia yang berpijak pada semangat Bhinneka Tunggal Ika, yang berpegang teguh dalam budaya Pancasila peringatan Jumat Agung menjadi momentum penting untuk meneguhkan nilai persatuan dalam perbedaan.
Pengorbanan Yesus Kristus tidak hanya dimaknai secara spiritual, tetapi juga menjadi refleksi kebangsaan tentang pentingnya kasih, toleransi, dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Jumat Agung merupakan hari suci bagi umat Kristiani yang memperingati wafatnya Yesus Kristus di kayu salib. Peristiwa penyaliban di Bukit Golgota, Yerusalem sekitar tahun 30–33 Masehi diyakini sebagai puncak pengorbanan demi menebus dosa umat manusia.
Disadur dari laman Iman Katolik, Jumat Agung dimaknai sebagai puncak pelayanan Yesus selama hidup-Nya di dunia, sehingga disebut “Agung” sebagai simbol kasih yang begitu besar bagi umat manusia.
Dalam perayaannya, umat Kristiani menjalankan ibadah dengan penuh kekhusyukan. Warna liturgi merah yang digunakan menjadi simbol darah, pengorbanan, dan kasih yang tulus.
Ketua DPRD Karawang, H. Endang Sodikin, S.Pd.I., S.H., M.H. atau Kang HES, menyampaikan bahwa Jumat Agung merupakan wujud nyata nilai kebhinekaan dalam kehidupan masyarakat.
“Pada intinya ini adalah wujud Bhinneka Tunggal Ika, dalam penghormatan terhadap agama lain. Bagi saudara-saudara kita umat Kristiani dan Katolik yang tengah merayakan Jumat Agung, ini adalah bukti bahwa perayaan ini adalah hari besar yang sakral, khususnya di Kabupaten Karawang. Ini juga menjadi wujud tingginya toleransi kita terhadap agama lain dan bentuk kebersamaan di tengah masyarakat,” ujarnya, menyampaikan.”.
Ia menambahkan bahwa Jumat Agung memiliki makna sakral bagi umat Kristiani sebagai bentuk pengabdian dan keyakinan terhadap peristiwa agung yang mereka imani.
“Karena Jumat Agung adalah sakralitas saudara-saudara kita yang beragama Kristiani dan Katolik, tentang pengabdian dan keyakinan terhadap peristiwa agung pada hari ini, maka sudah sepatutnya kita saling menghormati,” katanya.
Lebih lanjut, Kang HES berharap nilai kebersamaan dan toleransi di Karawang terus dijaga dan diperkuat.
“Semoga kebersamaan ini terus kita rawat dengan baik. Kita jaga harmoni dalam perbedaan, sehingga Karawang menjadi kabupaten yang pluralistik, yang memiliki tingkat toleransi tinggi antarumat beragama, serta mampu menghormati setiap perbedaan keyakinan. Itu adalah esensi dari perayaan ini,” ungkapnya.
Ia juga menyinggung simbol-simbol dalam perayaan Jumat Agung yang semakin memperkuat nilai kebersamaan di tengah masyarakat.
“Kebersamaan ini semakin kuat, termasuk dengan simbol penggunaan warna merah dan hitam dalam perayaan.
Ini menjadi bukti bahwa toleransi itu nyata dan hidup di Kabupaten Karawang,” sampainya Kang HES menutup sesi wawancaranya, jumat 3/4/2026. Di sela-sela waktu kesibukannya.
“Semoga kedamaian terus terjaga dalam kebersamaan di tengah perbedaan di antara kita. Semoga silaturahmi terus terjalin, walaupun berbeda agama, sehingga bersama-sama kita dapat mewujudkan Karawang yang maju,” pesannya mengingatkan.
Melalui momentum Jumat Agung, masyarakat diharapkan tidak hanya memaknai secara spiritual, tetapi juga menjadikannya sebagai landasan untuk memperkuat solidaritas, menjaga persatuan, serta membangun kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman.
