Berita Kabar Jabartimenews | suaraindonesiatv.com. Nasional. Tasikmalaya — Pengabdian tidak selalu diukur dari seberapa lama seseorang bertahan, melainkan dari kebijaksanaan membaca batas antara tanggung jawab dan kesehatan.
Di titik itulah, keputusan untuk berhenti sejenak kerap lahir, bukan sebagai tanda menyerah, melainkan sebagai bentuk kesadaran dan tanggung jawab yang lebih besar.
Dalam struktur kepengurusan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK), jabatan Ketua I memegang peran strategis dalam perencanaan, pengawasan, serta pelaksanaan berbagai program pembinaan keluarga. Tanggung jawab tersebut mencakup pola pengasuhan anak, pendidikan karakter, hingga penguatan peran perempuan di lingkungan keluarga dan masyarakat. Posisi ini menempatkan Rani Permayani sebagai salah satu motor penggerak utama kegiatan PKK di tingkat Kota Tasikmalaya.
Selama masa jabatannya, Rani tercatat aktif terlibat dalam berbagai agenda internal PKK, baik yang bersifat koordinatif maupun kegiatan lapangan. Kehadirannya dinilai berpengaruh dalam menjaga kesinambungan program-program PKK yang bersentuhan langsung dengan pembangunan kualitas keluarga, sejalan dengan visi PKK sebagai mitra strategis pemerintah daerah.
Keputusan Rani untuk mengajukan pengunduran diri dari kepengurusan PKK kemudian menarik perhatian publik. Hingga kini, surat pengunduran diri yang telah diajukannya sejak dua bulan lalu belum mendapatkan persetujuan dari Ketua TP PKK Kota Tasikmalaya, Elvira Kamarrow Putri.
“Saya sudah mengajukan surat pengunduran diri sejak dua bulan lalu, tapi sampai sekarang belum ditandatangani,” ujar Ambu Rani Permayani Diky Chandra, sebagaimana dilansir PikiranRakyat.com, Sabtu, 4 Januari 2025.
Rani menegaskan bahwa keputusannya untuk mundur tidak berkaitan dengan persoalan internal maupun dinamika kepengurusan PKK. Ia memastikan komunikasi dengan jajaran pengurus, termasuk Ketua TP PKK Kota Tasikmalaya, tetap berjalan dengan baik.
“Tidak ada masalah apa pun. Saya juga masih diberi ruang kalau suatu saat ingin aktif kembali,” katanya.
Lebih lanjut, Rani menjelaskan bahwa alasan utama dirinya memilih untuk rehat dari aktivitas PKK berkaitan dengan kondisi kesehatan pribadi. Atas pertimbangan tersebut, serta permintaan suami, ia harus membatasi keterlibatan dalam kegiatan organisasi yang menuntut kehadiran fisik penuh dan ritme kerja yang padat.
Meski demikian, Rani menegaskan bahwa dirinya tidak sepenuhnya menarik diri dari aktivitas sosial dan pengabdian masyarakat. Ia menyampaikan bahwa hingga saat ini masih aktif dalam kegiatan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda), serta tetap memenuhi undangan masyarakat untuk mengisi materi, kajian, dan kegiatan pembinaan sesuai dengan kondisi kesehatannya.
“Saya masih aktif di Dekranasda, dan masih menerima undangan-undangan untuk mengisi materi atau kajian dari masyarakat, selama kondisi memungkinkan,” ujar Rani.
Selain itu, Rani juga menyebutkan bahwa dirinya masih sesekali mendampingi suami dalam menjalankan tugas-tugas kedinasan, meskipun dengan intensitas yang lebih terbatas dan terukur.
“Saya juga masih menemani tugas-tugas suami sesekali,” tambahnya menjelaskan mengapa upaya mundurnya yang berkembang saat ini.
Saat ini, Rani diketahui rutin menjalani terapi ke Bogor, sehingga harus membagi waktu dan energi secara ketat.
“Suami meminta saya untuk beristirahat dan saat ini kondisi saya kurang baik, sehingga belum memungkinkan untuk mengikuti kegiatan PKK yang cukup padat,” ungkapnya ambu Rani Permayani.
Rani menegaskan, keputusan untuk rehat dari kepengurusan PKK bukanlah akhir dari pengabdian.
Ia membuka kemungkinan untuk kembali aktif apabila kondisi kesehatan telah membaik. Langkah ini sekaligus menjadi pengingat bahwa dalam pengabdian publik, menjaga kesehatan adalah bagian penting dari tanggung jawab itu sendiri.
