Kabar Jabar – suaraindonesiatv.com.nasional
Praktik pungutan liar (pungli) di area parkir kembali menjadi sorotan publik. Kejadian terbaru dialami oleh seorang warga bernama Veronica Elfrida saat hendak makan di salah satu rumah makan populer di Bandung, Warung Bu Imas. Veronica mengaku diminta membayar tarif parkir hingga Rp50.000, padahal ia hanya memarkir kendaraan jenis minibus tidak sampai satu jam.
Kejadian bermula saat kondisi lahan parkir utama warung makan terlihat lengang dan kosong. Namun, petugas parkir mengalihkan kendaraan ke area seberang jalan.
“Waktu saya datang, kondisi di Bu Imas sedang tidak ramai. Lahan parkir pun masih kosong. Tapi kendaraan saya justru diarahkan ke seberang jalan,” ungkap Veronica saat memberikan keterangan pers pada hari Jumat 11/7/2025).
Usai menyantap makanan, ia dibuat terkejut saat hendak mengambil kendaraan. “Tiba-tiba petugas parkir bilang tarifnya Rp50 ribu. Supir saya bingung, akhirnya saya yang turun tangan,” lanjutnya.
Veronica mempertanyakan dasar tarif tersebut, termasuk bukti karcis parkir dan ke mana setoran parkir disalurkan. Namun jawaban yang diterima justru semakin membingungkan. “Katanya, kalau mobil pribadi dan motor baru ada karcis. Kalau bus atau elf, enggak ada karcis dan langsung bayar,” jelasnya.
Saat Veronica mencoba menawar dan hanya memiliki Rp20.000, petugas tetap bersikukuh menagih Rp50.000. Namun setelah Veronica mengambil ponsel dan merekam situasi, barulah tarif diturunkan menjadi Rp30.000, meski dengan nada enggan.
“Dia baru mau terima setelah saya videokan. Tapi masih sempat bilang begini, ‘Harusnya sebelum parkir negosiasi dulu tarifnya, biar sekarang enggak komplain,’” tutur Veronica dengan nada heran.
Veronica menyayangkan praktik semacam ini yang terkesan memberatkan dan tidak transparan. Ia berharap ada tindakan tegas dari pihak berwenang, terutama Dinas Perhubungan atau Satpol PP, untuk menertibkan area parkir liar di wilayah tersebut.
“Saya sering makan di sana, biasanya parkir cuma Rp5.000, Rp10.000 saja. Ini benar-benar tidak wajar dan mencoreng nama tempat kuliner yang sudah terkenal,” pungkasnya.
Iapun meminta kepada pemerintah daerah kabupaten ia Bogor atau walikota bogor untuk menyampaikan kepada pak gubernur KDM, yakni atas kekecewaannya”.
semoga kedepannya ga ada pungli aja mas, kasian yang pada jualan di sekitar situ takutnya pada gamau makan lg karna parkirannya main getok harga” katanya
