“Kang HES: Meneguhkan Berdikari, Merawat Persatuan, dan Membumikan Pancasila sebagai Warisan Abadi Perjuangan Bung Karno”

Share

Breakthenews | Kabar Negeri | suaraindonesiatv.com | ApakabarJabar | “Bakti Tanpa Henti” Merah Putih Meneladani”
KARAWANG, 6 Juni 2026 – Meneguhkan semangat berdikari, merawat persatuan dalam keberagaman, serta membumikan nilai-nilai Pancasila bukan sekadar bentuk penghormatan terhadap sejarah perjuangan bangsa, melainkan ikhtiar bersama untuk menjaga warisan pemikiran Bung Karno tetap hidup dan relevan di tengah tantangan zaman.

Bagi bangsa Indonesia, nilai-nilai tersebut merupakan warisan abadi yang tidak hanya untuk dikenang, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata demi memperkuat jati diri bangsa, membangun kemandirian, serta memastikan cita-cita keadilan sosial tetap menjadi arah perjalanan Indonesia.

Dalam semangat itulah, peringatan Bulan Bung Karno VIII Tahun 2026 yang diselenggarakan sepanjang bulan Juni dengan berpusat pada tiga momentum penting, yakni 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila, 6 Juni sebagai Hari Lahir Bung Karno, dan 21 Juni sebagai Hari Wafat Bung Karno, menjadi ruang refleksi kebangsaan untuk menghidupkan kembali api perjuangan Sang Proklamator.

Momentum ini mengajak seluruh elemen bangsa untuk tidak hanya mengenang jasa Bung Karno, tetapi juga meneladani semangat berdikari, memperkokoh persatuan, dan terus membumikan Pancasila sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Dalam pandangannya melalui wawancara bersama jurnalis, H. Endang Sodikin, S.Pd.I., S.H., M.H. atau yang akrab disapa Kang HES, menyampaikan bahwa terdapat nilai-nilai utama dari perjuangan Bung Karno yang tetap relevan untuk diterapkan dalam kehidupan berbangsa saat ini.

“Spirit utama Bung Karno yang paling relevan saat ini adalah keberanian untuk percaya pada kemampuan diri sendiri (berdikari), bergotong royong, dan menjaga persatuan di atas keberagaman,” ujar Kang HES.

Menurutnya, semangat perjuangan Bung Karno harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan hanya sebatas mengenang sejarah masa lalu.

“Meneladani api perjuangan beliau berarti terus membumikan Pancasila dan tidak hanya menjadi generasi penerus yang mengenang masa lalu,” tegasnya.

Kang HES menjelaskan bahwa Bung Karno mewariskan sejumlah nilai penting yang perlu diterapkan dalam kehidupan masyarakat masa kini.

Nilai pertama adalah nasionalisme inklusif, yaitu mencintai tanah air tanpa membenci bangsa lain.

“Nasionalisme Inklusif: Mencintai tanah air tanpa membenci bangsa lain,” ungkap Kang HES.

Menurutnya, semangat tersebut dapat diwujudkan melalui sikap saling menghargai perbedaan, khususnya dalam menghadapi dinamika kehidupan digital saat ini.

“Semangat ini dapat diwujudkan dengan saling menghargai perbedaan, terutama dalam bermedia sosial di era digital,” lanjutnya.

Selain itu, Bung Karno juga mewariskan semangat berdikari secara ekonomi dan budaya sebagai upaya memperkuat ketahanan bangsa.

“Berdikari secara Ekonomi dan Budaya: Menggunakan produk dalam negeri dan melestarikan budaya bangsa agar kita tidak tergilas oleh globalisasi,” jelas Kang HES.

Ia menilai bahwa mencintai produk dalam negeri dan menjaga kelestarian budaya merupakan bentuk nyata dari upaya mempertahankan identitas bangsa di tengah arus perubahan global.

Lebih lanjut, Kang HES menyoroti pentingnya membangun generasi yang berpikir kritis dan berpendidikan sebagaimana pesan yang pernah disampaikan Bung Karno.

“Belajar tanpa berpikir itu tidaklah berguna, tapi berpikir tanpa belajar itu sangatlah berbahaya!”

Menurut Kang HES, pesan tersebut harus menjadi motivasi bagi generasi muda untuk terus meningkatkan kapasitas diri.

“Ini adalah panggilan bagi kaum muda untuk terus memperdalam ilmu pengetahuan dan mengabdi kepada masyarakat,” tuturnya.

Peringatan Bulan Bung Karno VIII Tahun 2026 diharapkan tidak berhenti pada serangkaian kegiatan seremonial semata.

Lebih dari itu, momentum ini harus menjadi pengingat bahwa nilai-nilai perjuangan Bung Karno harus terus dihidupkan dalam setiap langkah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Semangat berdikari harus diwujudkan melalui kemandirian dalam berbagai bidang kehidupan. Nilai gotong royong perlu terus dipelihara sebagai kekuatan sosial bangsa. Persatuan dalam keberagaman harus tetap dijaga sebagai fondasi kokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sementara itu, Pancasila harus terus dibumikan sebagai panduan moral dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.

Menutup wawancaranya, Kang HES mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan Bulan Bung Karno sebagai momentum memperkuat komitmen kebangsaan dan melanjutkan cita-cita luhur para pendiri bangsa.

“Meneladani Bung Karno bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi tentang bagaimana kita membumikan Pancasila, memperkuat persatuan, membangun kemandirian bangsa, serta terus belajar dan mengabdi demi masa depan Indonesia yang lebih baik,” tutupnya Kang HES.

Bulan Bung Karno pada akhirnya bukan hanya tentang mengenang sosok besar dalam sejarah bangsa, tetapi tentang memastikan bahwa api perjuangan beliau tetap menyala dalam kesadaran kolektif rakyat Indonesia. Sebab, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang menghargai jasa para pendirinya, melainkan bangsa yang mampu meneruskan nilai-nilai perjuangan tersebut menjadi energi untuk membangun masa depan yang berdaulat, adil, dan bermartabat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!