“Hari Buku Nasional 2026: Naufal Rodiyatul Maula Serukan Kebangkitan Literasi sebagai Penjaga Akal, Kesadaran Hukum, dan Martabat Peradaban Bangsa”

Share

Breakthenews | Kabar Negeri | suaraindonesiatv.com | ApakabarJabar | KARAWANG — Peringatan Hari Buku Nasional 2026 kembali menjadi momentum penting untuk membangkitkan budaya literasi di tengah masyarakat Indonesia. Di tengah derasnya arus digitalisasi dan cepatnya penyebaran informasi, literasi dinilai bukan sekadar kebiasaan membaca, melainkan bagian penting dalam menjaga akal sehat, membangun kesadaran hukum, serta merawat martabat peradaban bangsa.

Praktisi hukum muda dari LBH KENCANA INDONESIA, Naufal Rodiyatul Maula, menegaskan bahwa budaya membaca memiliki peran besar dalam membentuk masyarakat yang kritis, bijak, dan berintegritas. Menurutnya, kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh perkembangan teknologi dan ekonomi, tetapi juga oleh kualitas intelektual masyarakatnya dalam memahami ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kemanusiaan.

Momentum Hari Buku Nasional yang telah berjalan selama 46 tahun sejak berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada 17 Mei 1980 dinilai menjadi pengingat bahwa buku tetap memiliki peran penting sebagai penjaga ilmu pengetahuan, sejarah, pendidikan, dan lahirnya generasi pemikir yang berkontribusi bagi masa depan bangsa.

Hari Buku Nasional sendiri pertama kali dicanangkan pada tahun 2002 sebagai upaya meningkatkan minat baca dan budaya literasi masyarakat Indonesia. Penetapan tanggal 17 Mei dipilih bertepatan dengan hari berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Dalam pandangannya, Naufal Rodiyatul Maula S,H menyampaikan bahwa buku bukan hanya sumber ilmu pengetahuan semata, tetapi juga menjadi cahaya yang menjaga arah berpikir dan kualitas moral masyarakat di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.

“Literasi adalah pondasi kemajuan bangsa. Ketika budaya membaca tumbuh kuat di tengah masyarakat, maka akan lahir generasi yang kritis, berintegritas, dan memiliki kesadaran hukum yang baik. Buku bukan hanya sumber ilmu, tetapi cahaya peradaban yang menjaga martabat bangsa,” ujar Naufal Rodiyatul Maula.

Menurutnya, perkembangan teknologi dan media digital tidak seharusnya membuat masyarakat menjauh dari budaya membaca. Justru di tengah derasnya arus informasi, kemampuan memahami ilmu pengetahuan secara mendalam menjadi semakin penting agar masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi dangkal dan menyesatkan.

Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara yang sejak lama menegaskan bahwa pendidikan dan pengetahuan merupakan jalan utama untuk memerdekakan manusia dari kebodohan dan ketertinggalan.

Sementara itu, ahli literasi dunia Neil Postman juga pernah mengingatkan bahwa masyarakat yang kehilangan budaya membaca akan lebih mudah dipengaruhi informasi dangkal dan perlahan kehilangan kemampuan berpikir secara mendalam.

Fenomena tersebut dinilai semakin relevan di tengah perkembangan media digital saat ini, ketika masyarakat setiap hari dibanjiri informasi singkat yang bergerak sangat cepat melalui media sosial dan berbagai platform digital lainnya.

Di satu sisi teknologi memberikan kemudahan akses pengetahuan, namun di sisi lain juga menghadirkan tantangan besar terhadap kualitas pemahaman, daya kritis, serta kebiasaan membaca masyarakat.

Berbagai kalangan menilai bahwa budaya membaca harus kembali dijadikan bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi generasi muda, agar masyarakat tidak hanya menjadi konsumen informasi instan, tetapi juga mampu memahami ilmu pengetahuan secara utuh, mendalam, dan bertanggung jawab.

Peringatan Hari Buku Nasional 2026 diharapkan mampu menjadi gerakan bersama untuk membangun kembali budaya literasi di Indonesia, baik melalui keluarga, sekolah, perguruan tinggi, perpustakaan, komunitas literasi, maupun ruang-ruang sosial masyarakat lainnya.

Selain menjadi sarana peningkatan pengetahuan, budaya membaca juga dinilai memiliki hubungan erat dengan pembangunan karakter bangsa, kesadaran hukum, serta kemampuan masyarakat dalam menghadapi tantangan sosial dan perkembangan zaman.

Karena pada akhirnya, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang maju secara ekonomi dan teknologi, tetapi bangsa yang mampu menjaga ilmu pengetahuan, merawat budaya membaca, dan membangun kualitas intelektual generasinya demi masa depan yang lebih bermartabat dan berkeadaban.

Di tengah dunia yang semakin bising oleh cepatnya informasi dan perubahan zaman, buku tetap menjadi ruang sunyi tempat manusia belajar memahami kehidupan, menjaga akal sehat, merawat kebijaksanaan, dan memastikan bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak kehilangan nurani serta arah peradabannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!