Berita Update Kabar Karawang Selatan | suaraindonesiatv.com | Nasional.
Curah hujan tinggi yang disertai angin kencang di wilayah perbatasan Bogor dan Karawang berdampak serius terhadap infrastruktur penghubung masyarakat. Sebuah jembatan bambu yang selama ini menjadi akses utama warga dilaporkan putus pada 4 Desember 2025 setelah diterjang derasnya arus Sungai Ciomas.
Jembatan tersebut menghubungkan Kampung Parakan Salak, Desa Cikutamahi, Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor, dengan Kampung Parung Tanggulun, Desa Medalsari, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Karawang. Ambruknya jembatan ini menyebabkan akses harian warga terputus total, baik untuk aktivitas ekonomi maupun pendidikan.
Dampak paling dirasakan adalah terhambatnya akses anak-anak menuju sekolah. Sejumlah siswa terpaksa menempuh perjalanan dengan risiko tinggi, bahkan harus menyeberangi sungai dengan cara digendong oleh orang tua mereka agar tetap dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Sebagai langkah tanggap darurat, pemerintah setempat bersama masyarakat bergerak cepat melakukan gotong royong membangun jembatan darurat berbahan bambu sepanjang kurang lebih 25 meter. Pembangunan ini bertujuan memulihkan mobilitas warga agar tidak terisolasi sambil menunggu penanganan infrastruktur permanen dari pihak terkait.
Babinsa Desa Medalsari, Ongko Yudi Cahyono, yang akrab disapa Pak Ongko, menyampaikan bahwa pembangunan jembatan darurat tersebut telah mendekati tahap akhir. Hal itu ia sampaikan saat diwawancarai pada Jumat, 26 Desember 2025.
“Untuk progres pembangunan jembatan darurat ini, saat ini sudah mencapai sekitar 85 hingga 90 persen,” tegasnya.
Ia berharap, setelah rampung, jembatan tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang beraktivitas lintas wilayah Bogor–Karawang.

“Semoga dengan perbaikan jembatan ini bisa mempermudah, mempercepat, dan memotong waktu warga yang akan ke Bogor maupun sebaliknya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Pak Ongko juga berpesan kepada masyarakat agar bersama-sama menjaga jembatan darurat tersebut demi keselamatan bersama, khususnya bagi anak-anak sekolah.
“Pesan saya kepada warga, jembatan ini dijaga sebaik-baiknya, karena ini menyangkut keselamatan, terutama akses jalan anak-anak sekolah,” tambahnya.
Menurutnya, jembatan darurat yang saat ini dibangun memiliki konstruksi yang lebih tinggi dibandingkan jembatan bambu sebelumnya, sehingga diharapkan lebih aman saat debit air Sungai Ciomas meningkat.
“Betul sekali, sekarang jembatannya dibuat lebih tinggi dibandingkan jembatan bambu yang dulu,” pungkasnya.
Pembangunan jembatan darurat ini menjadi bukti kuatnya semangat gotong royong warga serta sinergi antara masyarakat dan aparat kewilayahan. Meski bersifat sementara, jembatan tersebut kini menjadi simbol harapan agar aktivitas warga tetap berjalan dan anak-anak dapat terus mengenyam pendidikan tanpa harus mengorbankan keselamatan.
