Dijanjikan Gaji Rp400 Ribu, Diterima Rp50 Ribu: 8 Warga Rengasdengklok Karawang Terlantar dan Terjerat Utang di OKI, Belum Bisa Pulang

Share

Breakthenews | Kabar Negeri |suaraindonesiatv.com | “Mari Sadar Menanam Kepedulian Terhadap Sesama Manusia” | 5 Mei 2026 — Janji upah Rp400 ribu per hari yang semula menjadi harapan, kini berubah menjadi kenyataan pahit yang belum berujung. Delapan warga Rengasdengklok, Karawang, hingga saat ini masih terlantar di Ogan Komering Ilir.

Dengan penghasilan jauh di bawah janji dan jeratan utang yang membelenggu, mereka belum juga mampu kembali ke kampung halaman.

Kabar memprihatinkan datang dari keluarga delapan warga Rengasdengklok yang hingga kini masih berada di Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.

Dalam keterangan wawancara, pihak keluarga mengungkap bahwa para pekerja awalnya diajak oleh seseorang dari Jakarta dengan iming-iming pekerjaan bergaji Rp400.000 hingga Rp420.000 per hari.

“Jadi awalnya diajak kerja oleh salah seorang dari Jakarta dengan perjanjian gaji 400 ribu sampai 420 ribu per hari. Lalu berangkat ke Sumatera, daerahnya seperti pulau yang jauh dari kawasan penduduk, dan untuk ke sana harus menyeberang menggunakan speedboat,” ungkap salah satu pihak keluarga berinisial E. Saat diwawancarai, Senin,(4/5/).

Namun, setibanya di lokasi, kondisi yang dihadapi jauh dari kesepakatan. Para pekerja harus menjalani pekerjaan panen tebu sejak pukul 06.00 pagi hingga siang hari di bawah terik matahari tanpa fasilitas tempat berteduh.

“Tapi saat sudah sampai, kerja panen tebu dari jam 6 pagi, siang panas tidak ada tempat berteduh sedikit pun. Sedangkan gaji yang diterima hanya 50 sampai 60 ribu,” lanjutnya.

Situasi semakin berat karena biaya hidup di lokasi sangat tinggi. Untuk makan sehari, para pekerja harus mengeluarkan biaya sekitar Rp60.000 hingga Rp70.000.

“Sedangkan makan di sana mahal, sehari bisa 60 sampai 70 ribu. Jadi kalau kurang harus kasbon, sampai akhirnya terlilit biaya makan yang mahal dan gaji tidak mencukupi,” jelas keluarga.

Akibat kondisi tersebut, para pekerja terjebak dalam utang kepada pihak pemberi kerja. Bahkan, ketika ingin pulang, mereka diwajibkan melunasi seluruh biaya yang telah dikeluarkan serta menanggung ongkos perjalanan sendiri.

“Kalau mau pulang harus bayar semua yang sudah dikeluarkan atasan dan ongkos sendiri. Sedangkan banyak yang sakit karena pekerjaan yang benar-benar keras, tapi gaji untuk makan saja tidak cukup, apalagi untuk kirim ke keluarga,” tutupnya.

Hingga saat ini, para pekerja tersebut belum dapat kembali ke kampung halaman karena keterbatasan biaya dan beban utang yang masih harus diselesaikan.

Diketahui, para pekerja yang terdampak berasal dari Dusun Cikangkung Barat, Desa Rengasdengklok Utara sebanyak empat orang, serta dari Rengasdengklok Selatan sebanyak dua orang.

Waktu terus berjalan, namun langkah pulang mereka masih tertahan. Di tanah yang jauh, mereka bertahan dalam sunyi, menunggu harapan yang tak kunjung pasti.

Kisah ini bukan sekadar tentang upah yang tak dibayar, melainkan tentang manusia yang tertahan di antara janji dan kenyataan, menanti keadilan yang semoga tak lagi terlambat datang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!