BATIK TURUBUK MENJADI IDENTITAS BARU EKONOMI KREATIF KARAWANG, DINAH PUJA ASTUTI DORONG KRIYA DAN FASHION BERBASIS POTENSI LOKAL

Share

Breakthenewstandang | Kabar Negeri | suaraindonesiatv.com | ApakabarJabar | “BergerakBhaktiBatik” KARAWANG — Batik Turubuk mulai ditempatkan sebagai identitas baru ekonomi kreatif Kabupaten Karawang dengan mengangkat potensi lokal Karawang Selatan, khususnya tanaman khas Loji yang juga menjadi bagian dari makanan tradisional masyarakat setempat, ke dalam pengembangan subsektor kriya dan fashion yang memadukan kekayaan alam, tradisi, kreativitas dan nilai ekonomi.

Dalam wawancara eksklusif kepada media mengenai pengembangan ekonomi kreatif di Kabupaten Karawang, Plt. Direktur Ekonomi Kreatif Kabupaten Karawang, Dinah Puja Astuti, menyampaikan bahwa Batik Motif Turubuk merupakan salah satu inovasi yang tengah diperkenalkan untuk mengangkat potensi lokal Karawang melalui sektor ekonomi kreatif.

Pengembangan tersebut sekaligus menjadi upaya mempertemukan kekayaan daerah dengan kreativitas, sehingga sesuatu yang tumbuh dari lingkungan dan tradisi masyarakat dapat memiliki nilai tambah ketika dikembangkan menjadi produk kriya dan fashion.

Ketika ditanya mengenai kualitas, bahan serta proses produksi Batik Turubuk, Dinah menjelaskan bahwa pengembangannya masih terus dilakukan, termasuk dari sisi teknik produksi maupun material yang digunakan.

“Kreatif banget dong pastinya, ini masih digital printing kita sedang kembangkan untuk jadi batik cetak dan tulis bahan yang kita gunakan masih polimer premium dan memang masih dalam proses R&D,” ujar Dinah, menegaskan arah pengembangan Batik Turubuk dari tahap awal digital printing menuju teknik batik cetak dan tulis dengan tetap memperhatikan kualitas bahan serta proses riset dan pengembangan.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan Batik Turubuk tidak berhenti pada penciptaan motif, tetapi juga menyentuh aspek produksi dan peningkatan kualitas agar produk yang lahir dari potensi lokal dapat berkembang menjadi bagian dari kekuatan ekonomi kreatif Karawang.

Dinah juga melihat bahwa Karawang memiliki ruang yang luas untuk mengembangkan ekonomi kreatif. Karakter daerah yang dinamis membuat sumber-sumber kreativitas tidak hanya berasal dari kebudayaan, tetapi juga dari kekayaan alam, perkembangan industri hingga perjalanan sejarah daerah.

“Karawang itu kota yang sangat dinamis, pengembangan ekonomi kreatif amat sangat luas dengan potensi yang dimiliki Karawang dari alam, industri, sejarah dll,” papar Dinah, memetakan beragam kekuatan daerah sebagai fondasi untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif yang berangkat dari karakter dan potensi Karawang.

Dalam sesi wawancara lanjutan mengenai hasil talkshow yang membahas Batik Turubuk, Dinah menjelaskan bahwa pembahasan tidak hanya berhenti pada pengenalan motif, tetapi juga menyentuh arah pengembangan, proses produksi serta bagaimana batik Karawang dapat dibangun secara lebih terstruktur.

Pembahasan tersebut juga mengarah pada pertanyaan mengenai teknik pembuatan produk Batik Turubuk, apakah akan dikembangkan melalui digital printing atau diarahkan menggunakan teknik cetak dan alat membatik.

Dinah menjelaskan bahwa proses tersebut masih menjadi bagian dari tahapan pengembangan dan riset. Digital printing menjadi tahap yang telah dilakukan, sementara pengembangan menuju batik cetak dan tulis terus dipersiapkan untuk menghasilkan produk yang memiliki karakter dan kualitas lebih kuat.

Pembahasan tersebut kemudian berkembang pada kebutuhan Karawang untuk memiliki ruang bersama yang secara khusus menjadi wadah para pengrajin batik lokal.

“Salah satu rencana pengembangan batik Karawang dengan banyaknya pengrajin batik, saatnya Karawang memiliki wadah khusus pengrajin batik Karawang, di mana wadah ini akan fokus pada pengembangan batik Karawang, semacam Rumah Batik Karawang,” jelas Dinah, menggagas hadirnya sebuah wadah bersama yang dapat menjadi ruang pengembangan, kolaborasi dan penguatan ekosistem para pengrajin batik Karawang.

Gagasan Rumah Batik Karawang tersebut menjadi salah satu arah penting dalam pengembangan batik daerah. Wadah tersebut dapat diproyeksikan bukan sekadar sebagai tempat berkumpulnya pengrajin, tetapi sebagai ruang yang mempertemukan proses kreatif, pengembangan motif, peningkatan keterampilan, produksi, promosi hingga penguatan pasar.

Dengan semakin banyaknya pengrajin batik di Karawang, keberadaan wadah khusus juga dapat menjadi ruang untuk memperkuat karakter batik Karawang agar tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan berkembang dalam ekosistem yang memiliki arah dan identitas bersama.

Momentum Hari Batik 2026 dengan tema nasional “Batik Berlayar” turut menjadi ruang untuk memperkenalkan keberadaan Batik Turubuk kepada masyarakat sekaligus membuka pembicaraan lebih luas mengenai batik sebagai bagian dari ekonomi kreatif.

Lebih jauh, Dinah menegaskan bahwa ekonomi kreatif memiliki cakupan yang jauh lebih luas daripada sekadar kuliner dan usaha makanan. Subsektor fashion dan kriya juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi aktivitas ekonomi produktif apabila dikelola secara konsisten.

“Betul ekraf sangat luas cakupan potensinya,” tegas Dinah, menggarisbawahi bahwa ekonomi kreatif memiliki banyak ruang yang dapat menjadi sumber pertumbuhan usaha dan kreativitas masyarakat.

Menurutnya, Batik Turubuk secara khusus sedang diarahkan melalui dua subsektor ekonomi kreatif, yakni kriya dan fashion.

“Pengembangan batik turubuk adalah bagian dari potensi ekonomi kreatif yang sedang kita angkat dari 2 subsektor ekraf kriya dan fashion,” jelas Dinah, menempatkan Batik Turubuk sebagai produk kreatif yang mempertemukan kekuatan budaya dengan peluang ekonomi melalui subsektor kriya dan fashion.

Dalam konteks perkembangan batik di Indonesia, Dinah menyadari bahwa sejumlah daerah seperti Cirebon dan Pekalongan telah memiliki perjalanan sejarah batik yang panjang dan menjadi bagian kuat dari akar budaya masyarakatnya.

“Cirebon, Pekalongan dll yang memang telah memiliki sejarah batik yang sudah lebih lama dan menjadi akar budaya mereka. Sedangkan di Karawang batik turubuk ini baru saja diperkenalkan,” terang Dinah, memotret posisi Batik Turubuk sebagai bagian dari perjalanan awal Karawang dalam membangun sekaligus memperkenalkan karakter batiknya sendiri.

Meski relatif baru diperkenalkan, keberadaan Batik Turubuk justru memiliki kekuatan tersendiri karena motif tersebut tidak dilepaskan dari sesuatu yang dekat dengan kehidupan masyarakat Karawang Selatan.

Turubuk merupakan tanaman khas Loji, Karawang Selatan, yang juga dikenal sebagai makanan tradisional masyarakat setempat. Dari kekayaan lokal tersebut kemudian lahir gagasan untuk mengangkatnya menjadi salah satu ikon dalam motif batik Karawang.

Dalam kesempatana yang sama Ira Retno Sari salah satu Penggiat Ekonomi Kreatif sekaligus Co-Owner Batik TURBO (turubuk dijero) menyampaikan “Itulah keunikannya batik Karawang karena memang mengangkat satu icon ciri khas dari turubuk ini sebagai makanan tradisional yang menjadi bagian budaya atau tradisi masyarakat Karawang khususnya di wilayah Karawang Selatan,” urai Ira Retno Sari, menempatkan Turubuk sebagai titik temu antara tradisi, identitas lokal, kreativitas dan arah baru pengembangan fashion Karawang.

Dalam rangka memeriahkan Hari Batik yang diperingati setiap 2 Oktober, Komite Ekonomi Kreatif Karawang memperkenalkan Batik Turbo, yakni batik dengan motif Turubuk, tanaman khas Loji, Karawang Selatan, yang juga merupakan makanan tradisional khas wilayah tersebut.

Dinah menjelaskan bahwa sebelumnya, pada September 2025, dalam rangkaian resmi Hari Jadi Karawang, Turubuk telah diperkenalkan sebagai salah satu oleh-oleh khas Karawang. Memasuki tahun ini, pengembangannya kemudian diperluas melalui pengenalan motif Turubuk dalam produk batik sebagai inovasi baru di sektor ekonomi kreatif.

“Dalam rangka memeriahkan Hari Batik 2 Oktober, kali ini Komite Ekraf Karawang memperkenalkan Batik Turbo, batik dengan motif Turubuk, tanaman khas Loji Karawang Selatan yang merupakan makanan tradisional khas Loji juga. September 2025 dalam rangkaian resmi Hari Jadi Karawang, oleh-oleh khas Karawang, Turbo diluncurkan. Tahun ini batik motif Turubuk kami perkenalkan sebagai inovasi baru di sektor ekonomi kreatif subsektor kriya dan fashion yang saling melengkapi,” jelas Dinah, menegaskan kesinambungan antara pengenalan Turubuk sebagai kekayaan kuliner dan oleh-oleh khas daerah dengan pengembangannya menjadi identitas kreatif melalui kriya dan fashion.

Pengembangan Batik Turubuk bukan hanya tentang inovasi atau sekadar menghadirkan keunggulan baru di antara kekayaan produk daerah lainnya. Lebih dari itu, Batik Turubuk membawa gagasan kebersamaan untuk menggerakkan potensi lokal menjadi sumber kreativitas yang mampu menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat Karawang, khususnya di wilayah tempat Turubuk tumbuh dan dikenal sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.

Kriya dan fashion dapat menjadi ruang yang mempertemukan budaya, desain, proses produksi, kontribusi produktif pelaku usaha dan pasar. Ketika seluruh potensi tersebut dikembangkan secara berkelanjutan, identitas lokal tidak hanya menjadi bagian dari cerita masa lalu, tetapi dapat hadir dalam bentuk produk modern yang memiliki nilai ekonomi kreatif semakin kuat.

Bagi Karawang, pengangkatan Turubuk menjadi motif batik memberikan pesan bahwa identitas daerah dapat dibangun dari sesuatu yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Kekayaan alam, makanan tradisional, sejarah dan budaya tidak hanya disimpan sebagai warisan, tetapi dapat diolah menjadi gagasan kreatif yang memiliki nilai tambah.

Gagasan Rumah Batik Karawang juga memberi arah bahwa pengembangan batik tidak cukup hanya melalui lahirnya motif baru. Dibutuhkan ruang bersama yang mampu mempertemukan para pengrajin, kreativitas, inovasi, produksi, pembinaan dan pemasaran agar batik Karawang dapat tumbuh sebagai kekuatan ekonomi kreatif yang memiliki ekosistem sendiri.

Karawang dengan karakter wilayah yang memiliki kekayaan alam, kawasan industri, sejarah dan budaya memiliki banyak sumber inspirasi untuk dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi kreatif. Batik Turubuk menjadi salah satu contoh bagaimana sesuatu yang tumbuh dari kehidupan masyarakat dapat diterjemahkan menjadi identitas kreatif melalui kriya dan fashion yang lebih berdaya saing nasional.

Pada akhirnya, Batik Turubuk bukan sekadar tentang bagaimana sebuah tanaman khas Loji diterjemahkan menjadi motif kain.

Di baliknya terdapat ikhtiar untuk menjadikan kekayaan lokal sebagai identitas, kreativitas sebagai kekuatan, serta kriya dan fashion sebagai ruang produktif yang mampu membawa nama Karawang melangkah lebih luas di kancah nasional dan internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!