“TIGA TAHUN AIR TAK SAMPAI, EMPAT DESA MENUNGGU KEPASTIAN: TOKOH TANI SAEPUl BAHRI DESAK IRIGASI DIBENAHI, LEBIH 100 HEKTARE SAWAH JANGAN DIKORBANKAN DI WILAYAH TELAGASARI KARAWANG,!

Share

Breakthenews | Kabar Negeri | suaraindonesiatv.com | ApakabarJabar | “Bakti Tani Bergerak Kehidupan” KARAWANG — Tiga tahun air menurut keterangan Tokoh Bapak Tani Saepul Bahri tak kunjung sampai secara optimal ke sawah, sementara lebih dari 100 hektare lahan pertanian yang terdampak kekeringan tersebar di empat desa, yakni Desa Kalibuaya, Desa Cadaskertajaya, Desa Ciwulan dan Desa Pulosari. Di tengah saluran yang disebut jebol, dangkal, debit air kecil, dipenuhi sampah serta terhambat berbagai bangunan, petani terus berjuang mempertahankan sawahnya. Bagi Saepul, kondisi tersebut harus dijawab dengan pembenahan irigasi yang nyata agar krisis air tidak terus berulang dan lahan pertanian tidak kehilangan masa depannya.

Dalam wawancara lanjutan kepada media pada Senin (24/8/2026), Saepul Bahri kembali menyampaikan kondisi jaringan pengairan yang menurut keterangannya menjadi persoalan penting bagi masyarakat tani Telagasari. Ia menilai persoalan tersebut perlu mendapat perhatian langsung di lapangan, sekaligus mendorong adanya perbaikan terhadap jaringan irigasi yang mengalami kerusakan.

Ketika ditanyakan apakah sudah ada kunjungan pemerintah ke lokasi, Saepul Bahri menjawab singkat.

“Belum, Pak.” jawab Saepul Bahri, menyampaikan bahwa menurut keterangannya belum ada kunjungan pemerintah ke titik persoalan yang dimaksud.

Saepul kemudian menunjukkan salah satu lokasi saluran yang menurut keterangannya mengalami kerusakan.

“Yang jebolnya di dekat STM PGRI Telagasari, dekat POM Bensin, BPP.” tunjuk Saepul Bahri, menjelaskan titik saluran yang menurutnya membutuhkan perhatian dan penanganan di lapangan.

Ketika ditanyakan mengenai kondisi aliran air di kawasan tersebut, Saepul mengingat keadaan sebelum persoalan berlangsung selama lebih dari tiga tahun.

“Dulu mah lancar, cuma sudah lebih dari tiga tahun air tidak sampai. Jadi, setiap musim tanam harus memompa air.” kenang Saepul Bahri, menggambarkan perubahan kondisi pengairan yang menurutnya dahulu berjalan lancar, sementara kini petani harus mengandalkan pompa untuk memenuhi kebutuhan air sawah.

Saepul juga menyoroti kerusakan pada sejumlah saluran.

“Banyak yang jebol parah, Pak. Air dari sananya juga sangat kecil dan salurannya dangkal. Kalau volume air ditambah, malah meluber ke pemukiman penduduk.” sorot Saepul Bahri, menjelaskan bahwa kecilnya debit air, pendangkalan dan kerusakan saluran menurutnya membuat distribusi air sulit dikendalikan.

Selain itu, Saepul mengungkap adanya hambatan lain yang menurut pengamatannya turut memengaruhi kelancaran aliran air.

“Banyak bangunan liar juga, Pak, yang membuat aliran tersendat. Sampah juga banyak. Jadi, salurannya dangkal, banyak yang jebol, ditambah berbagai hambatan di sepanjang saluran.” urai Saepul Bahri, memaparkan kondisi yang menurut pengamatannya membuat aliran air semakin tidak optimal.

Persoalan tersebut, menurut Saepul, tidak semestinya hanya dilihat ketika musim kekeringan tiba. Kerusakan jaringan irigasi perlu diperiksa dan dibenahi agar sistem pengairan dapat kembali menjalankan fungsinya secara berkelanjutan.

“Dulu mah lancar,” ungkap Saepul Bahri, mengenang kondisi ketika air menurutnya masih dapat mengalir menuju sawah tanpa petani harus terus bergantung pada pompa.

Pernyataan tersebut menjadi gambaran perubahan kondisi yang dirasakan petani. Dari pengairan yang dahulu disebut lancar, kini petani harus mencari jalan keluar sendiri agar sawah tetap mendapatkan air pada setiap musim tanam.

Dengan kekeringan yang disebut berdampak pada lebih dari 100 hektare sawah di empat desa, persoalan irigasi Telagasari menjadi isu yang menyentuh langsung keberlangsungan produksi pertanian dan kehidupan masyarakat tani.

Bagi Saepul, gotong royong masyarakat tetap memiliki peran penting dalam menjaga kebersihan saluran. Namun, upaya tersebut perlu berjalan beriringan dengan tanggung jawab pemerintah dalam memperbaiki infrastruktur pengairan yang rusak dan memastikan fungsi irigasi dapat kembali berjalan.

Pada akhirnya, keresahan yang disampaikan Saepul Bahri bermuara pada satu kebutuhan mendasar, petani membutuhkan air dan kepastian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!