Breakthenews | Kabar Negeri | suaraindonesiatv.com | ApakabarJabar | KARAWANG — Duren Loji mulai dibaca bukan sekadar sebagai komoditas musiman, tetapi sebagai potensi lokal yang memiliki karakter rasa, identitas wilayah, serta peluang untuk dikembangkan melalui ekonomi kreatif dan ruang kolaborasi Karawang–Bogor. Perspektif tersebut disampaikan Dinah Puja Astuti, yang juga menjabat sebagai Plt. Direktur Ekonomi Kreatif Kabupaten Karawang, sebagai update lanjutan dari pemberitaan Pesta Duren Loji dalam momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Dalam wawancara kepada media, Dinah menjelaskan bahwa penggunaan nama Pesta Duren Loji menjadi salah satu pembeda dari event Festival Duren yang selama ini biasa diselenggarakan di KCP. Menurutnya, Pesta Duren Loji lebih diarahkan untuk mengangkat karakter Duren Loji yang berasal dari wilayah Loji, Karawang Selatan.
Dinah menilai kekuatan Duren Loji tidak hanya terletak pada keberadaan komoditasnya, tetapi juga pada karakter rasa yang menjadi pembeda dan dapat diperkuat sebagai identitas produk lokal.
“Pesta Duren Loji ini memang lebih menonjolkan keunikan karakteristik Duren Loji yang lebih milky, creamy dan tangie,” ungkap Dinah dalam keterangannya kepada media, menempatkan karakter rasa sebagai salah satu kekuatan yang dapat memperkuat identitas Duren Loji.
Menurut Dinah, keunikan tersebut juga mendapatkan respons dari penikmat durian yang datang dari luar Karawang. Salah satunya merupakan pembeli asal Lampung yang memberikan penilaian mengenai perbedaan Duren Loji dari sisi tekstur dan rasa.
“Keunikan rasa Duren Loji inipun dibenarkan oleh penikmat duren yang datang dari luar Karawang. Salah satu pembeli dari Lampung menyatakan rasa Duren Loji memang berbeda dari tekstur dan rasa,” tutur Dinah, menyampaikan respons konsumen luar daerah terhadap karakter Duren Loji.
Dinah melihat pengalaman penikmat dari luar daerah tersebut sebagai gambaran bahwa Duren Loji memiliki daya tarik yang dapat dikenalkan lebih luas, sekaligus menjadi modal untuk memperkuat branding produk lokal Karawang.
Dalam penjelasannya, Dinah juga menguraikan perbedaan Pesta Duren Loji dengan kegiatan Festival Duren sebelumnya.
Menurutnya, pembeda tersebut berada pada lokasi kegiatan, durian yang ditonjolkan, serta waktu pelaksanaan yang lebih mengikuti masa panen Duren Loji.
“Salah satu pembedanya adalah di Pesta Duren Loji selain tempatnya di wilayah Loji juga Duren yang ditonjolkan adalah Duren Lojinya dan waktunya lebih lama selama masa panen Duren Loji,” jelas Dinah, menegaskan bahwa Pesta Duren Loji sekaligus membawa identitas wilayah asal komoditas yang diangkat.
Dengan konsep tersebut, Loji tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya kegiatan, tetapi juga menjadi bagian dari cerita produk yang diperkenalkan kepada masyarakat.
Pesta Duren Loji kemudian menghadirkan durian dari Bogor, salah satunya durian lonjong, yang ditempatkan sebagai pembanding rasa dan tekstur dengan Duren Loji.
“Adapun di acara Pesta Duren Loji ada duren dari Bogor, duren lonjong, lebih berperan sebagai pembanding rasa dan tekstur yang lebih head to head karena di satu wilayah yang sama,” ungkap Dinah, menjelaskan posisi durian Bogor dalam konsep Pesta Duren Loji.
Menurutnya, kehadiran durian Bogor memberikan pengalaman kepada konsumen untuk mengenali karakter masing-masing produk secara langsung.
Namun, perbedaan tersebut tidak semata-mata harus dibaca sebagai persaingan.
Kedekatan wilayah Loji dengan Bogor justru dapat menjadi peluang untuk membuka ruang kolaborasi.
