Dinas PUPR Karawang Perketat Pengendalian Mutu Jalan: Perencanaan Teknis, JMF hingga Uji Core Jadi Instrumen Menjaga Kualitas Infrastruktur

Share

Breakthenews | Kabar Negeri | suaraindonesiatv.com | ApakabarJabar | “Bergerak Peduli Bangun Negeri” KARAWANG — Dinas PUPR Kabupaten Karawang menempatkan pengendalian mutu sebagai bagian penting dalam memastikan kualitas pembangunan infrastruktur jalan. Pengawasan tidak berhenti pada hasil permukaan yang terlihat setelah pengaspalan, tetapi dilakukan melalui rangkaian tahapan teknis sejak survei dan perencanaan kondisi jalan, penyusunan Job Mix Formula (JMF), trial hotmix, pengujian material, penghamparan dan pemadatan hingga pemeriksaan akhir melalui uji core. Rangkaian tersebut menjadi instrumen untuk memastikan pekerjaan dilaksanakan sesuai parameter teknis yang telah ditentukan.

Penegasan itu disampaikan Kepala Dinas PUPR Kabupaten Karawang H. Rusman Kusnadi, S.T., dalam sesi wawancara eksklusif nya, Rusman menguraikan secara teknis bagaimana pengendalian mutu dilakukan sejak tahap perencanaan hingga hasil pekerjaan diperiksa di lapangan.

Perencanaan Teknis Menjadi Dasar Pekerjaan

Rusman menegaskan bahwa pekerjaan jalan tidak langsung dimulai dengan pengaspalan. Tahapan awal harus diawali dengan perencanaan teknis berdasarkan kondisi faktual di lapangan.

“Setiap pekerjaan jalan dilakukan perencanaan teknis dulu melalui tahapan survei kondisi kerusakan jalan, kondisi lalu lintas kendaraan dan kondisi daya dukung jalan eksisting,” tegas Rusman.

Ia menerangkan bahwa hasil survei tersebut kemudian menjadi dasar untuk menyusun perencanaan teknis sesuai ketentuan Kementerian PU.

“Berdasarkan data tersebut dilanjutkan dengan perencanaan teknis jalan sesuai dengan aturan dari Kementerian PU. Sehingga diperoleh jenis perkerasannya termasuk data teknisnya seperti ketebalan yang dibutuhkan,” paparnya.

Menurut Rusman, tahapan tersebut menjadi dasar dalam menentukan jenis perkerasan dan kebutuhan teknis jalan, termasuk ketebalan konstruksi yang diperlukan.

JMF dan Trial Menjadi Instrumen Awal Pengendalian Hotmix

Masuk pada tahap pekerjaan hotmix, Rusman menjelaskan bahwa penyedia jasa melalui Asphalt Mixing Plant (AMP) harus membuat Job Mix Formula (JMF) sesuai jenis hotmix yang telah ditentukan.

“Sebelum pekerjaan dimulai penyedia jasa melalui AMP harus membuat Job Mix Formula (JMF) sesuai dengan jenis hotmix yang sudah ditentukan dan melakukan trial untuk menguji kualitas hotmix tersebut secara teknis,” ujarnya.

Ia kemudian menguraikan parameter yang diuji melalui trial.

“Seperti tebal penghamparan, jumlah lintasan pemadatan, kadar aspal, analisa saringan agregat dan test Marshall. Hasilnya dibandingkan dengan spesifikasi yang sudah ditentukan,” terang Rusman.

Rusman menegaskan bahwa hasil trial menjadi dasar sebelum pekerjaan pengaspalan dilanjutkan.

“Apabila sudah memenuhi syarat semuanya maka pengaspalan bisa dilanjutkan dengan standar sesuai trial atau uji coba tersebut,” tegasnya.

Dengan demikian, trial tidak hanya menjadi tahapan uji coba, tetapi menjadi acuan teknis bagi pelaksanaan pekerjaan di lapangan.

Pengujian Menjadi Instrumen Pengendalian Kualitas

Ketika ditanya mengenai pentingnya pengujian tersebut, Rusman menegaskan bahwa pengujian memiliki peran penting dalam memastikan kualitas hotmix.

“Sangat penting, karena pengujian tersebut dalam rangka pengendalian kualitas hotmix apakah sudah sesuai dengan spesifikasi yang sudah ditentukan atau belum,” jawabnya.

Ia kembali menekankan bahwa material yang diproduksi harus sesuai dengan JMF yang telah dibuat dan sebelumnya melalui trial.

“Jadi aspal yang diproduksi harus sesuai dengan JMF yang sudah dibuat dan dilakukan trial,” tandas Rusman.

Material yang Sampai di Lapangan Kembali Diperiksa

Menurut Rusman, pengendalian mutu tidak berhenti pada proses produksi hotmix di AMP. Material yang telah dikirim ke lapangan kembali diperiksa sebelum dilakukan penghamparan.

“Aspal yang sudah dikirim ke lapangan dites dulu suhunya, tidak boleh kurang dari 100°C, lalu diambil sampel untuk dilakukan test kadar aspal,” ungkapnya.

Setelah pemeriksaan material, proses dilanjutkan dengan penghamparan sesuai ketebalan yang direncanakan.

“Selanjutnya digelar dengan ketebalan sesuai dengan rencana, secara umum tebal hamparan 1,2 kali dari tebal rencana,” jelasnya.

Rusman menerangkan bahwa pemadatan kemudian dilakukan menggunakan tire roller dan pneumatic roller dengan jumlah lintasan berdasarkan hasil trial.

“Dipadatkan tire roller dan diikuti pneumatic roller dengan jumlah lintasan sesuai hasil trial,” tuturnya.

Jumlah Lintasan Pemadatan Mengacu Hasil Trial

Ketika menjelaskan mengenai pemadatan, Rusman menegaskan bahwa jumlah lintasan ditentukan berdasarkan hasil trial, bukan sekadar perkiraan pelaksanaan.

“Rata-rata hasil trial jumlah lintasannya minimal 22 lintasan,” ungkapnya.

Menurutnya, hasil trial menjadi parameter teknis dalam proses pemadatan hotmix di lapangan.

Uji Core Memeriksa Hasil Pekerjaan

Setelah proses penghamparan dan pemadatan selesai, pemeriksaan dilanjutkan melalui uji core.

Rusman menjelaskan bahwa uji core digunakan untuk mengendalikan kualitas sekaligus kuantitas hotmix yang telah terpasang.

“Setelah selesai baru dilakukan core, pengendalian kualitas maupun kuantitas hotmix seperti ketebalan,” paparnya.

Pemeriksaan juga mencakup tingkat kepadatan, kadar aspal dan rongga dalam campuran.

“Test Marshall untuk pengecekan tingkat kepadatan umumnya harus di atas 95 persen, kadar aspal, rongga dalam campuran,” lanjutnya.

Menurut Rusman, pemeriksaan tersebut menjadi bagian penting untuk mengetahui kesesuaian hasil pekerjaan dengan parameter teknis yang telah ditetapkan.

Pengendalian Pondasi Jalan melalui Sand Cone

Pengendalian mutu tidak hanya dilakukan terhadap lapisan hotmix. Lapisan pondasi atau base course juga menjadi bagian dari pemeriksaan.

“Untuk pengendalian pondasi jalan dilakukan juga pengujian ketebalan dan tingkat kepadatan pondasi atau base course melalui test sand cone,” tegas Rusman.

Namun, ia menjelaskan bahwa pengujian tersebut diterapkan berdasarkan karakteristik pekerjaan.

“Test ini hanya dilakukan untuk pondasi yang dihampar dengan ketebalan tertentu. Sementara untuk leveling, apalagi dengan volume yang kecil, tidak dilakukan pengetesan,” terangnya.

Dengan demikian, metode pengujian disesuaikan dengan jenis dan karakteristik pekerjaan yang dilakukan.

Prime Coat dan Tack Coat Sebelum Hotmix

Rusman juga memaparkan tahapan penggunaan prime coat dan tack coat sebelum hotmix dihamparkan.

“Untuk penghamparan prime coat atau tack coat dihampar sebelum hotmix dihamparkan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa prime coat digunakan pada pondasi agregat.

“Prime coat digunakan pada pondasi agregat dengan volume 0,8 dari luasan atau 80 persen tutupan permukaan,” paparnya.

Sedangkan tack coat digunakan pada permukaan dengan aspal eksisting maupun beton eksisting.

“Tack coat digunakan pada pondasi dengan aspal eksisting atau beton eksisting dengan volume 0,2 dari luasan atau 20 persen tutupan permukaan,” tambahnya.

Pengendalian Mutu Berjalan dari Hulu hingga Hilir

Jika seluruh keterangan Rusman dirangkum, sistem pengendalian mutu jalan yang diterapkan melalui tahapan yang saling berkaitan.

Proses dimulai dengan survei kondisi kerusakan jalan, kondisi lalu lintas kendaraan dan daya dukung jalan eksisting. Data tersebut menjadi dasar penyusunan perencanaan teknis sesuai aturan Kementerian PU, termasuk menentukan jenis perkerasan dan ketebalan yang diperlukan.

Selanjutnya, penyedia jasa melalui AMP menyusun JMF sesuai jenis hotmix yang ditentukan dan melakukan trial. Parameter yang diuji mencakup ketebalan penghamparan, jumlah lintasan pemadatan, kadar aspal, analisis saringan agregat dan Marshall Test.

Apabila hasil trial memenuhi spesifikasi, pekerjaan pengaspalan dapat dilanjutkan berdasarkan parameter hasil uji tersebut.

Material hotmix yang sampai di lapangan kemudian diperiksa suhunya dan diambil sampelnya untuk pengujian kadar aspal. Setelah itu dilakukan penghamparan dan pemadatan menggunakan tire roller serta pneumatic roller dengan jumlah lintasan sesuai hasil trial.

Setelah pekerjaan selesai, uji core dilakukan untuk mengendalikan kualitas maupun kuantitas hotmix, termasuk ketebalan, tingkat kepadatan, kadar aspal dan rongga dalam campuran.

Sementara pada lapisan pondasi, pengujian ketebalan dan kepadatan dilakukan melalui sand cone untuk pekerjaan dengan ketebalan tertentu. Sebelum hotmix dihamparkan, prime coat maupun tack coat diterapkan sesuai kondisi permukaan.

Kualitas Infrastruktur Harus Dapat Dibuktikan

Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa pengendalian mutu jalan tidak berhenti pada tampilan fisik setelah pekerjaan selesai. Setiap tahapan memiliki fungsi untuk memastikan pekerjaan tetap berada dalam parameter teknis yang telah direncanakan.

Perencanaan menjadi dasar menentukan konstruksi. JMF dan trial menjadi instrumen pengujian campuran. Pemeriksaan material memastikan hotmix yang digunakan sesuai parameter.

Penghamparan dan pemadatan mengikuti hasil trial, sementara uji core menjadi instrumen pemeriksaan terhadap hasil pekerjaan yang telah terpasang.

Dengan pendekatan tersebut, kualitas infrastruktur jalan dapat dinilai berdasarkan proses dan data teknis, bukan semata-mata berdasarkan penampilan permukaan.

Bagi masyarakat, pengendalian mutu memiliki arti strategis karena berkaitan dengan ketahanan infrastruktur, efektivitas penggunaan anggaran publik, kenyamanan berkendara dan keselamatan pengguna jalan.

Pada akhirnya, pembangunan jalan yang berkualitas bukan hanya persoalan menghasilkan permukaan yang terlihat mulus, tetapi memastikan setiap tahap pekerjaan direncanakan berdasarkan kondisi lapangan, dilaksanakan sesuai spesifikasi, diuji secara teknis, dikendalikan selama proses dan diperiksa hasil akhirnya.

Mutu jalan harus dapat dibuktikan melalui data dan pengujian, sehingga pembangunan infrastruktur tidak hanya selesai secara fisik, tetapi juga dapat dipertanggungjawabkan secara teknis kepada masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!