WKU AZIZ MATHORI: Pemuda KARAWANG Harus Jadi Nahkoda Industri Di Tanah Sendiri, KNIC Perlu Memperkuat Kedaulatan Ekonomi Bangsa, Asing Mitra Strategis, Bukan Pengganti Peran Anak-anak Negeri,!

Share

Breakthenewsbangsa | Sapa Nusa Negeri | suaraindonesiatv.com | Apakabaribukota | “Pemuda Melangkah Tumbuh Berkarya Penuh Menuju 100’Tahun 2028” KARAWANG — Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 harus menjadi momentum kebangkitan generasi muda untuk mengambil peran strategis dalam pembangunan industri, memperkuat kemandirian ekonomi, dan memastikan pertumbuhan kawasan industri memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Semangat patriotisme tidak cukup berhenti pada simbol dan seruan cinta tanah air, tetapi harus diwujudkan melalui karya, kegigihan menghadapi persaingan global, kepedulian sosial, serta keberanian anak bangsa menjadi pelaku utama dalam mengelola potensi ekonomi di negerinya sendiri.

Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum (WKU) KADIN Kabupaten Karawang, Aziz Mathori, dalam keterangannya sesuai menghadiri Apel Peringatan Hari Sumpah Pemuda di Karawang, Rabu (28/10/2026), bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda ke-98 yang mengusung tema “Patriotik, Gigih, Berempati, Pemuda untuk Indonesia.”

Ia menghubungkan semangat persatuan pemuda dengan tantangan pembangunan ekonomi masa kini, khususnya keterlibatan pengusaha nasional, pemberdayaan UMKM, dan masa depan kawasan industri Karawang New Industry City (KNIC).

“Pada 98 tahun lalu, para pemuda bersumpah bukan karena mereka sama, tapi karena mereka sepakat untuk satu tujuan: Indonesia,” refleksi Aziz Mathori menegaskan bahwa persatuan bangsa lahir dari kesediaan menyatukan perbedaan demi cita-cita bersama, sekaligus mengingatkan bahwa semangat Sumpah Pemuda harus diterjemahkan menjadi kerja nyata untuk memperkuat kemandirian ekonomi, memperluas kesempatan bagi generasi muda, dan menjaga agar pembangunan nasional tetap berpijak pada kepentingan rakyat.

“Patriotisme hari ini bukan lagi angkat senjata, tapi angkat karya. Pemuda Karawang harus patriotik dengan mencintai produk lokal, membangun industri di tanahnya sendiri, dan menjaga kedaulatan ekonomi bangsa. Seperti keputusan menjaga energi nasional kita, itu adalah bentuk patriotisme ekonomi,” pandangannya tegas, mengartikulasikan bahwa cinta tanah air pada era modern harus diwujudkan melalui produktivitas, keberpihakan terhadap produk lokal, dan penguatan industri nasional, sekaligus menempatkan kemampuan bangsa mengelola potensi strategisnya sebagai bagian penting dari perjuangan mempertahankan kemandirian ekonomi.

Menurut Aziz, generasi muda harus memiliki keberanian untuk membangun usaha, menciptakan inovasi, mengembangkan produk dalam negeri, dan mengambil bagian dalam rantai pasok industri.

Patriotisme ekonomi, dalam perspektifnya, tidak cukup diwujudkan melalui kebanggaan terhadap tanah air, tetapi juga harus terlihat dari kemampuan menghasilkan nilai tambah dan memperkuat posisi pelaku usaha nasional di tengah persaingan global saat ini.

Semangat menjaga energi nasional yang disinggungnya menjadi pengingat bahwa pengelolaan potensi strategis perlu mempertimbangkan kepentingan bangsa dalam jangka panjang. Karena itu, penguatan kapasitas sumber daya manusia, industri dalam negeri, dan kewirausahaan generasi muda perlu berjalan beriringan agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga menjadi bangsa yang mampu menghasilkan dan mengelola kekuatan ekonominya sendiri.

“Karawang adalah jantung industri Indonesia. Persaingan global itu keras. Pemuda harus gigih, ulet, dan tahan banting. Jangan jadi generasi yang mengeluh, tapi generasi yang menemukan solusi. KADIN Karawang akan terus mendorong ekosistem wirausaha pemuda yang gigih,” penegasan Aziz, menempatkan kegigihan sebagai modal penting bagi generasi muda untuk menghadapi perubahan industri, mengatasi keterbatasan, dan menciptakan peluang ekonomi, sekaligus menggarisbawahi perlunya ekosistem kewirausahaan yang memberi ruang bagi pemuda untuk berkembang secara mandiri dan berdaya saing.

Besarnya aktivitas industri di Karawang, menurutnya, harus menjadi peluang bagi generasi muda untuk meningkatkan kompetensi, mengembangkan inovasi, dan membangun usaha yang mampu menjawab kebutuhan pasar. Pemuda tidak boleh hanya menyaksikan pertumbuhan kawasan industri, tetapi perlu mempersiapkan diri agar dapat terlibat sebagai pengusaha, tenaga profesional, pencipta lapangan kerja, dan mitra strategis dalam pembangunan ekonomi daerah.

Komitmen KADIN Karawang untuk mendorong ekosistem wirausaha pemuda menjadi bagian dari upaya mempertemukan potensi generasi muda dengan kebutuhan dunia usaha. Dengan dukungan jejaring bisnis, peningkatan kemampuan, dan kesempatan kemitraan, pemuda diharapkan mampu mengubah tantangan menjadi peluang serta membangun usaha yang berkelanjutan.

“Kemajuan tidak ada artinya jika tidak berempati. Pemuda untuk Indonesia artinya pemuda yang suksesnya merangkul sesama, membuka lapangan kerja, dan peduli pada lingkungan serta masyarakat sekitar. Itulah esensi gotong royong,” pandangan Aziz tersebut menggarisbawahi bahwa keberhasilan pembangunan tidak seharusnya hanya diukur dari besarnya investasi atau keuntungan usaha, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan manfaat sosial, membuka kesempatan kerja, memperkuat UMKM, dan menjaga keberlanjutan lingkungan.

Pesan tersebut menempatkan empati sebagai landasan moral dalam membangun ekonomi yang inklusif. Pertumbuhan industri perlu disertai perhatian terhadap kondisi masyarakat sekitar agar manfaat pembangunan tidak hanya dinikmati oleh kelompok tertentu, melainkan turut membuka kesempatan bagi warga untuk meningkatkan kesejahteraan.

Aziz memandang bahwa keberhasilan generasi muda akan memiliki makna lebih luas ketika disertai kepedulian terhadap sesama. Membuka lapangan kerja, memperkuat usaha masyarakat, dan menjaga lingkungan merupakan bentuk gotong royong yang dapat menghubungkan keberhasilan individu dengan kemajuan bersama.

Ketika dimintai pandangan mengenai apakah kawasan industri KNIC Karawang sebaiknya dikelola anak bangsa atau pihak asing, Aziz menegaskan pentingnya memberikan ruang strategis bagi pengusaha nasional dalam pengelolaan kawasan industri di Indonesia.

“Kalau ditanya mending dikelola anak bangsa atau asing, jawaban saya sebagai WKU KADIN jelas: 100% lebih baik dikelola anak bangsa,” ketegasan Aziz Mathori tersebut mengartikulasikan pentingnya kedaulatan ekonomi nasional melalui penguatan kapasitas pengusaha dalam negeri, sekaligus menempatkan keterlibatan anak bangsa dalam pengelolaan kawasan industri KNIC sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi, memperluas kesempatan usaha lokal, dan memastikan potensi strategis daerah memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.

Aziz menyebut KNIC memiliki luas sekitar 1.400 hektare dan memandang kawasan tersebut sebagai salah satu pusat pertumbuhan industri baru yang strategis bagi Karawang. Menurutnya, besarnya potensi kawasan industri harus diiringi dengan kemampuan pengusaha nasional untuk mengambil peran dalam pengelolaan, pengembangan usaha, dan rantai pasok industri.

“KNIC itu 1.400 hektare, jantung industri baru Karawang. Kalau jantungnya dikelola asing sepenuhnya, kita hanya jadi penonton dan tukang parkir di tanah sendiri. Sesuai arahan Presiden Prabowo, kita harus survival mode, amankan aset strategis untuk kepentingan nasional dulu,” dalam pandangan Aziz tersebut menyoroti risiko tersisihnya pelaku usaha domestik apabila mereka tidak memiliki kesempatan yang memadai dalam ekosistem industri, sekaligus menegaskan perlunya memperkuat kapasitas nasional agar potensi kawasan strategis tidak hanya menjadi sumber aktivitas investasi, tetapi juga menjadi penggerak kemandirian ekonomi Indonesia.

Bagi WKU AZIZ, penguatan peran anak-anak bangsa harus diwujudkan melalui kesiapan pengusaha nasional untuk bersaing, peningkatan kompetensi, dan terbukanya kesempatan kemitraan yang proporsional.

Kedaulatan ekonomi tidak cukup dinyatakan melalui sikap, tetapi perlu didukung kemampuan profesional dan tata kelola yang baik agar pelaku usaha dalam negeri dapat mengambil tanggung jawab secara nyata.

“Pengelola anak bangsa pasti lebih paham dan lebih berempati pada pengusaha lokal Karawang, UMKM, dan tenaga kerja lokal. Kalau dikelola asing, yang diprioritaskan ya rantai pasok mereka, bukan rantai pasok kita,” penekanannya, menggarisbawahi pentingnya keterhubungan antara kawasan industri dan kekuatan ekonomi daerah, sekaligus mendorong agar pengusaha lokal, UMKM, dan tenaga kerja Karawang memperoleh kesempatan yang lebih luas untuk menjadi bagian dari pertumbuhan industri.

Menurutnya, keberadaan kawasan industri perlu membuka ruang bagi perusahaan lokal untuk menyediakan barang dan jasa, memperluas kemitraan bisnis, serta meningkatkan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan industri. Dengan keterlibatan yang lebih kuat, pelaku usaha daerah diharapkan dapat berkembang dari skala lokal menjadi bagian dari rantai pasok yang lebih luas.

Pandangan tersebut juga menempatkan pemberdayaan UMKM sebagai bagian penting dari pembangunan industri yang berkelanjutan. Pengusaha lokal perlu didukung melalui peningkatan kualitas produk, penguatan manajemen, pemenuhan standar industri, dan akses kemitraan agar mampu bersaing secara profesional.

Dengan demikian, ukuran keberhasilan kawasan industri tidak hanya terletak pada besarnya investasi, tetapi juga pada terbukanya peluang ekonomi bagi masyarakat setempat dan kemampuan pelaku usaha lokal untuk tumbuh bersama.

“Kalau anak bangsa yang kelola, profitnya muter di Karawang, pajaknya di Karawang, CSR-nya untuk pemuda Karawang. Kalau asing, profitnya lari ke luar negeri,” penegasan Aziz Mathori menggarisbawahi pentingnya nilai tambah yang kembali kepada daerah, sekaligus menempatkan perputaran ekonomi lokal, kontribusi perpajakan sesuai ketentuan, dan tanggung jawab sosial sebagai aspek yang perlu diperhatikan dalam pengembangan kawasan industri.

Menurutnya WKU, pembangunan kawasan industri tidak seharusnya hanya dipahami sebagai pemanfaatan lahan dan masuknya investasi. Lebih dari itu, kawasan industri perlu menjadi ruang pertumbuhan bagi pengusaha nasional, peningkatan keterampilan tenaga kerja, pengembangan UMKM, dan penciptaan peluang usaha baru bagi masyarakat.

Aziz mendorong agar manfaat ekonomi kerakyatan dari kegiatan industri dapat dirasakan melalui hubungan usaha yang saling menguatkan.

Keterlibatan perusahaan lokal, peningkatan kapasitas tenaga kerja, dan program pemberdayaan masyarakat menjadi bagian dari upaya memastikan pertumbuhan industri memberikan dampak yang lebih luas.

Dalam kerangka tersebut, penguatan ekonomi daerah perlu disertai kemitraan yang sehat, tata kelola yang akuntabel, dan komitmen untuk memperluas manfaat pembangunan bagi masyarakat Karawang.

Meski menegaskan pentingnya peran anak bangsa, Aziz menyatakan bahwa KADIN tidak menolak investasi asing. Ia memandang investasi internasional, teknologi, dan akses pasar global sebagai unsur yang dapat membantu meningkatkan daya saing industri nasional apabila dibangun melalui kemitraan yang saling menguntungkan.

“Anak bangsa sebagai nahkoda, asing sebagai mitra strategis. Bukan sebaliknya. Kita butuh kolaborasi, bukan dominasi,” penegasan Aziz, menggarisbawahi bahwa keterbukaan terhadap investasi global harus berjalan beriringan dengan keberanian menjaga kepentingan nasional, sehingga kemitraan internasional tidak menggeser peran strategis pengusaha Indonesia, melainkan memperkuat transfer teknologi, memperluas akses pasar, dan membangun daya saing industri nasional.

Ia menilai, kerja sama dengan investor asing dapat menjadi peluang untuk meningkatkan kemampuan industri dalam negeri, memperluas jaringan bisnis, dan mempercepat transfer pengetahuan.

Namun, kemitraan tersebut perlu dibangun dengan posisi yang jelas, profesional, dan proporsional agar perusahaan nasional tetap memiliki kesempatan untuk berkembang serta mengambil bagian dalam pengambilan keputusan strategis sesuai kapasitas dan kewenangannya.

Bagi Aziz, kolaborasi dan kedaulatan ekonomi bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan beriringan apabila investasi diarahkan untuk memperkuat kemampuan nasional, membuka peluang bagi pelaku usaha lokal, dan menghasilkan manfaat jangka panjang bagi perekonomian Indonesia.

“Saya di KADIN Karawang, juga sebagai pengusaha lokal PT Buana Jasa Karawang, siap mendorong pengusaha-pengusaha Karawang untuk konsolidasi dan ambil peran di KNIC. Jangan sampai kita jadi tamu di rumah sendiri,” komitmen Aziz Mathori, menegaskan pentingnya konsolidasi pelaku usaha daerah agar mampu memperkuat kapasitas, membangun kemitraan, dan mengambil bagian dalam peluang ekonomi yang tumbuh di kawasan industri.

Menurutnya, pengusaha Karawang perlu membangun kerja sama dan meningkatkan kesiapan profesional agar dapat memenuhi kebutuhan industri yang semakin kompetitif.

Konsolidasi menjadi langkah penting untuk memperkuat daya tawar, memperluas jaringan bisnis, dan mendorong perusahaan lokal mengambil bagian dalam rantai pasok secara berkelanjutan.

Aziz menempatkan KADIN sebagai salah satu ruang untuk mempertemukan kepentingan dan potensi pengusaha daerah. Melalui komunikasi, kolaborasi, dan penguatan kemampuan usaha, pelaku bisnis lokal diharapkan mampu mengambil peran lebih besar tanpa mengabaikan standar kualitas, efisiensi, dan tata kelola yang baik.

Baginya, kesempatan tidak cukup hanya tersedia, pengusaha daerah juga harus mempersiapkan diri untuk memanfaatkannya. Kemandirian ekonomi membutuhkan keberanian mengambil peluang sekaligus kesiapan untuk bekerja secara profesional dan kompetitif.

“Mari kita buktikan bahwa Pemuda Karawang bukan hanya penonton di kawasan industri terbesar, tapi pemain utamanya. Pemuda untuk Indonesia, Karawang untuk Indonesia Emas 2045!” seruan WKU AZIZ MATHORI, menempatkan generasi muda sebagai kekuatan strategis pembangunan yang perlu mengambil peran melalui kewirausahaan, inovasi, penciptaan lapangan kerja, dan keterlibatan nyata dalam pertumbuhan industri di daerahnya sendiri.

Ia menegaskan bahwa patriotisme, kegigihan, dan empati harus menjadi nilai yang hidup dalam tindakan generasi muda.

Patriotisme diwujudkan melalui karya dan keberpihakan terhadap kepentingan nasional; kegigihan dibuktikan melalui kemampuan menghadapi tantangan dan menemukan solusi, sedangkan empati tercermin dari kesediaan membangun kemajuan yang turut dirasakan masyarakat.

Dalam konteks pengembangan KNIC, nilai-nilai tersebut dapat diterjemahkan melalui peningkatan kemampuan pengusaha nasional, penguatan UMKM, perluasan kesempatan bagi tenaga kerja lokal, serta kemitraan investasi yang memberikan manfaat bagi daerah. Dengan demikian, pertumbuhan industri tidak hanya menjadi simbol kemajuan ekonomi, tetapi juga membuka ruang bagi generasi muda untuk tumbuh sebagai pelaku utama pembangunan.

“Selamat Hari Sumpah Pemuda!” pesan WKU KADIN Karawang, mengajak generasi muda untuk menjadikan momentum bersejarah ini sebagai panggilan untuk bekerja, berinovasi, dan membangun masa depan bersama, sekaligus memperkuat kesadaran bahwa kemajuan bangsa membutuhkan persatuan, kemampuan, dan tanggung jawab sosial.

“Itu namanya PATRIOTIK yang BEKERJA,” penegasan Aziz tersebut merangkum gagasan bahwa cinta tanah air tidak boleh berhenti sebagai slogan, melainkan harus dibuktikan melalui karya, penguatan kemandirian ekonomi, keberanian mengambil peran strategis, dan kesungguhan memastikan potensi industri di negeri sendiri memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!