Berita Update Kabar Negeri —suaraindonesiatv.com. Nasional. | Jakarta —Sebuah peristiwa kekerasan yang bermula dari persoalan sederhana dalam kehidupan bertetangga berubah menjadi tragedi kemanusiaan.
Penganiayaan yang terjadi di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat, tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga trauma mendalam bagi korban dan keluarganya. Peristiwa ini terekam kamera dan menyebar luas di media sosial, memantik keprihatinan publik serta tuntutan akan keadilan.
Beruntung, aksi penganiayaan tersebut berhasil direkam oleh istri korban berinisial A dan kini videonya tersebar luas di media sosial.
Kronologi Awal Konflik
Berdasarkan penjelasan istri korban, Angel, melalui akun Instagram @angelju_, konflik bermula dari kebiasaan pelaku yang kerap memainkan alat musik drum hingga malam hari selama lebih dari enam bulan.
“Saya Angel sebagai istri korban, dan suami saya Darwin sebagai korban. Pelaku sudah lebih dari enam bulan main drum, dan suaranya selalu tembus ke rumah kami,” ujar Angel, menjelaskan dalam keterangannya singkat.
Menurutnya, keluarga korban telah berulang kali menegur secara baik-baik melalui Ketua RT setempat. Namun, upaya tersebut tidak pernah mendapat respons positif.
“Kami sudah sering menegur lewat RT, tapi tidak pernah ada itikad baik atau sikap kooperatif dari pelaku,” tambahnya.
Keterangan Langsung dari Korban
Darwin, suami Angel sekaligus korban penganiayaan, menjelaskan secara rinci peristiwa yang dialaminya saat berada langsung di lokasi kejadian.
“Tanggal 7 Februari sekitar jam 2 siang, anaknya main drum lagi. Istri saya menegur langsung ke depan rumah tetangga. Posisi saya masih di tempat kerja, lalu saya langsung ke sana,” ungkap Darwin saat dikonfirmasi oleh jurnalis media suaraindonesiatv.com, Senin pagi,” 9/2/2026).
Setibanya di lokasi, Darwin mendapati istrinya sudah terlibat adu mulut dengan anak pelaku dan mendapat cacian.
“Saya samperin karena sudah sama-sama emosi dan saya dengar istri saya dicaci maki. Saya bilang, ‘Lu mau apa,’ sambil maju satu langkah, tapi tidak sampai menempel,” jelasnya.
Namun, situasi justru semakin memanas.
“Si anak malah maju sampai badan nempel ke saya. Karena sudah menempel, saya dorong,” lanjut Darwin.
Detik-Detik Penganiayaan
Menurut Darwin, kejadian berubah drastis ketika ayah pelaku datang secara tiba-tiba.
“Seketika bapaknya datang bawa mobil dari samping dan langsung menabrak saya dan istri saya. Istri saya jatuh, saya terpental,” tuturnya.
Setelah itu, anak pelaku langsung memiting leher Darwin dari belakang dengan sangat kencang.
“Leher saya dipiting kuat banget sampai saya jatuh dan hampir kehabisan napas. Saat itu dia bilang, ‘Gua bunuh lu,’ dan ‘ampun nggak lu,’” kata Darwin.
Meski korban telah meminta ampun, kekerasan tidak berhenti.
“Saya sudah tepuk lengannya dan minta ampun, tapi masih dipiting. Bapaknya turun dari mobil dan menendang punggung saya dan kepala belakang saya beberapa kali,” lanjutnya.
Nyaris Kehilangan Kesadaran
Darwin mengaku kondisinya semakin kritis ketika ayah pelaku menutup bagian mata, hidung, dan mulutnya.
“Mata, hidung, dan mulut saya ditutup sampai saya benar-benar nggak bisa napas dan hampir blackout,” ujarnya.
Setelah cekikan dilepaskan, anak pelaku masih sempat menendang bagian kepala depan korban.
Kekerasan Disertai Penghinaan
Dalam kondisi terkapar dan lemah, korban dan istrinya kembali mendapat perlakuan tidak manusiawi.
“Si anak sempat merekam saya dan istri saya sambil bilang, ‘Lu jadi anjing gua, mana anjing gua liat sini. Istrinya juga liat kamera sini, anjing. Mau nggak kencingin lu?’” ungkap Darwin.
Setelah kejadian tersebut, Darwin dibantu istrinya untuk pulang ke rumah.
“Saya bangun dibantu istri saya buat pulang. Sebelum pergi, bapaknya masih bilang, ‘Sini panggil jenderal lu,’” pungkas Darwin.
Harapan Korban
Darwin dan keluarganya berharap aparat penegak hukum segera menindaklanjuti kasus ini secara serius.
“Kami hanya ingin keadilan dan perlindungan hukum. Ini bukan soal ribut biasa, tapi soal nyawa,” tegasnya.
Peristiwa ini kini menjadi sorotan publik. Rekaman video yang beredar luas di media sosial diharapkan menjadi bukti kuat agar kasus ini diusut tuntas, sehingga kejadian serupa tidak kembali terulang di tengah masyarakat.
Darwin menegaskan bahwa kekerasan yang dialaminya terjadi secara bersamaan dan berlapis, saat dirinya berada dalam kondisi tidak berdaya.
“Posisi saya sedang dipiting leher dengan sangat kencang. Di saat yang bersamaan, bapaknya turun dari mobil lalu menendang bagian punggung saya beberapa kali dan juga menendang kepala bagian belakang saya beberapa kali,” ujar Darwin.
Ia menambahkan, dalam kondisi hampir kehabisan napas dan nyaris kehilangan kesadaran, pelaku masih melontarkan ancaman yang sangat merendahkan martabat manusia.
“Kata-kata terakhir yang saya dengar dari pelaku adalah, ‘Mau gua kencingin lu,’” ungkapnya.
Menurut Darwin, pernyataan tersebut semakin menegaskan bahwa tindakan yang dialaminya bukan sekadar emosi sesaat, melainkan bentuk kekerasan dan penghinaan serius terhadap kemanusiaan.
