Breakthenewstandang | Sapa Nusa Negeri | suaraindonesiatv.com | 11″Tahun HSN Melangkah” | KARAWANG — Semangat Hari Santri Nasional (HSN) 2026 bertema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” tidak cukup dimaknai sebagai slogan peringatan, tetapi harus dibuktikan melalui penguasaan ilmu, keteguhan akhlak, kemandirian ekonomi, kepedulian sosial, serta pengabdian nyata kepada umat dan bangsa. Pandangan tersebut ditegaskan Kang Amo Zakaria saat menjelaskan pelaksanaan HSN PCNU Karawang yang diselenggarakan secara mandiri melalui semangat gotong royong dan dukungan para simpatisan Nahdlatul Ulama (NU), tanpa kolaborasi dengan pemerintah.
Dalam keterangannya kepada media, Amo mengungkapkan bahwa rangkaian kegiatan HSN PCNU Karawang mencakup Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK), jalan santai, hingga pembagian berbagai hadiah melalui kegiatan doorprize. Menurutnya, seluruh rangkaian tersebut diselenggarakan oleh PCNU dengan mengandalkan dukungan simpatisan NU.
“HSN PCNU tidak berkolaborasi dengan pemerintah, murni PCNU yang mengadakan acara dari mulai MQK, jalan santai, hingga hadiah-hadiah yang kita bagikan pada doorprize nanti, murni dari simpatisan NU,” ungkap Amo, mempertegas prinsip kemandirian penyelenggaraan kegiatan HSN PCNU Karawang.
Ketika dimintai penegasan mengenai semangat gotong royong PCNU Karawang bersama para pendukung kegiatan, Amo membenarkan bahwa pelaksanaan tersebut bertumpu pada kebersamaan dan partisipasi berbagai pihak yang memberikan dukungan.
“Muhun kitu, Kang,” jawabnya, mengafirmasi semangat gotong royong dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Mengenai perkembangan peserta, Amo menyampaikan bahwa kegiatan MQK telah diikuti sekitar dua puluh peserta lebih, sedangkan peminat jalan santai terus bertambah. Untuk mendukung partisipasi masyarakat, panitia telah menyediakan ribuan kupon yang dapat digunakan peserta dalam mengikuti kegiatan jalan santai.
“Kalau MQK sudah ada 20-an. Kalau jalan santai sudah banyak. Kita menyediakan kupon jalan santai 3.000,” jelasnya, memaparkan perkembangan partisipasi dalam rangkaian kegiatan HSN PCNU Karawang.
Ia kemudian menerangkan bahwa jumlah kupon yang dicetak saat ini mencapai 3.000 lembar, dengan kemungkinan penambahan hingga 5.000 lembar. Peserta yang ingin mengikuti kegiatan juga tidak dibatasi hanya dari wilayah Kabupaten Karawang.
“Saat ini kupon dicetak baru 3.000, ada kemungkinan sampai 5.000 dan peserta pun terbuka, bukan hanya orang Karawang saja. Kita buka untuk yang di luar Karawang, sudah banyak yang pesan juga dari Bekasi dan Jakarta untuk ikut memeriahkan acara jalan santai,” paparnya, menggarisbawahi keterbukaan kegiatan bagi masyarakat lintas daerah.
Keterlibatan peserta dari Bekasi dan Jakarta menjadi bagian dari antusiasme masyarakat untuk turut memeriahkan kegiatan tersebut. Bagi PCNU Karawang, penyelenggaraan HSN melalui MQK dan jalan santai tidak hanya menjadi agenda peringatan, tetapi juga ruang partisipasi yang mempertemukan masyarakat dalam suasana kebersamaan.
Di balik rangkaian kegiatan itu, Amo mengingatkan bahwa esensi Hari Santri jauh lebih luas daripada kemeriahan acara. Santri harus mampu mengambil peran strategis dalam kehidupan masyarakat, membangun lembaga pendidikan, memperkuat ekonomi umat, membantu masyarakat kecil, menguasai teknologi, menjaga persatuan, dan menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat.
“Santri harus berani membangun lembaga pendidikan, memberdayakan ekonomi umat, membantu masyarakat kecil, menguasai teknologi, menjaga persatuan, serta menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat,” tegasnya, menarik garis perjuangan santri dari ruang pendidikan menuju pengabdian sosial yang nyata.
Menurut Amo, masa depan santri tidak harus diarahkan pada satu profesi tertentu. Setiap santri mempunyai kesempatan untuk mengabdikan ilmu dan kemampuannya melalui beragam bidang pekerjaan, selama dilandasi kejujuran, akhlak, serta niat memberikan manfaat bagi sesama.
“Tidak semua santri harus menjadi kiai besar atau pejabat negara. Ada yang menjadi guru, petani, pengusaha, tenaga kesehatan, teknisi, jurnalis, maupun pemimpin masyarakat. Apa pun profesinya, selama dijalankan dengan ilmu, kejujuran, akhlak, dan niat memberikan manfaat, semuanya dapat menjadi bagian dari perjuangan membangun negeri,” urainya, menegaskan bahwa pengabdian santri tidak dibatasi oleh jabatan, melainkan ditentukan oleh manfaat yang diberikan.
Amo juga menempatkan kebermanfaatan sebagai ukuran penting keberhasilan seorang santri. Gelar akademik dan jabatan, menurutnya, bukan satu-satunya tolok ukur yang menentukan kualitas pengabdian seseorang. Hal yang lebih mendasar ialah sejauh mana ilmu dan kemampuan yang dimiliki dapat memberikan dampak positif bagi umat dan bangsa.
“Bagi saya, ukuran keberhasilan santri bukan semata-mata seberapa tinggi gelar yang diraih atau seberapa besar jabatan yang diduduki, melainkan seberapa besar manfaat yang diberikan kepada umat dan bangsa,” tandasnya, meneguhkan orientasi pengabdian sebagai inti perjuangan santri.
Dalam memaknai tema HSN 2026, “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, yang dalam bahan wawancara dikaitkan dengan Surat Edaran Menteri Agama Nomor 6 Tahun 2026, Amo mengingatkan bahwa cita-cita Indonesia Emas tidak akan terwujud hanya melalui pergantian waktu ataupun slogan yang terus digaungkan dalam setiap peringatan.
Menurutnya, Indonesia membutuhkan manusia yang memiliki kemauan untuk terus belajar, bekerja keras, menjaga integritas, dan mengutamakan kemaslahatan bersama. Dalam konteks tersebut, santri dituntut menghadirkan kontribusi yang dapat menjawab persoalan masyarakat, sekaligus menjaga persatuan di tengah kehidupan berbangsa.
“Sebab, Indonesia Emas tidak akan terwujud hanya dengan pergantian tahun atau slogan yang digaungkan setiap peringatan. Indonesia Emas membutuhkan manusia-manusia yang mau belajar, bekerja keras, menjaga integritas, dan mengutamakan kemaslahatan bersama,” jelasnya, menempatkan kualitas manusia sebagai salah satu fondasi utama menuju Indonesia Emas.
Ia kemudian menegaskan bahwa santri harus hadir sebagai bagian dari solusi, menjadi kekuatan yang merekatkan persatuan, dan memberikan keteladanan bagi masyarakat. Identitas santri, menurutnya, harus tercermin melalui perilaku dan karya yang membawa manfaat, bukan berhenti pada kebanggaan terhadap identitas itu sendiri.
“Santri harus menjadi bagian dari solusi, bukan menambah persoalan. Menjadi perekat persatuan, bukan pemecah belah. Menjadi cahaya bagi masyarakat, bukan hanya kebanggaan bagi dirinya sendiri,” tegas Amo, menggarisbawahi tanggung jawab moral santri dalam kehidupan bermasyarakat.
Lebih jauh, ia merumuskan makna tema HSN tersebut sebagai panggilan untuk membangun bangsa melalui ilmu pengetahuan, memperkuat masyarakat dengan akhlak, menggerakkan perubahan melalui pengabdian, serta menyiapkan generasi masa depan yang cerdas, mandiri, adil, dan bermartabat.
“Bagi saya, ‘Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas’ berarti membangun bangsa dengan ilmu, mengokohkan masyarakat dengan akhlak, menggerakkan perubahan dengan pengabdian, serta menyiapkan generasi masa depan yang cerdas, mandiri, adil, dan bermartabat,” tuturnya, merangkum hubungan antara kapasitas intelektual, karakter, dan tanggung jawab sosial dalam perjuangan membangun bangsa.
Amo menambahkan bahwa negeri yang kuat membutuhkan manusia berilmu, sementara martabat bangsa memerlukan masyarakat yang menjunjung akhlak. Keduanya harus berjalan beriringan agar generasi mendatang tidak hanya memiliki kecakapan, tetapi juga karakter yang mampu menjaga kepentingan bersama.
“Karena pada akhirnya, negeri yang kuat membutuhkan manusia yang berilmu; negeri yang bermartabat membutuhkan manusia yang berakhlak; dan Indonesia Emas membutuhkan generasi yang mampu menyatukan keduanya,” ungkapnya, mempertegas bahwa kemajuan bangsa tidak dapat dipisahkan dari keseimbangan antara kecerdasan dan moralitas.
Dalam pembahasan mengenai kedudukan santri di masa depan, Amo juga menanggapi pandangan bahwa santri saat ini merupakan bagian dari penentu masa depan Indonesia yang lebih gemilang, bukan sekadar produk legislasi yang disahkan melalui peraturan perundang-undangan.
Menanggapi pertanyaan tersebut, ia menyatakan persetujuannya dengan ungkapan, “Leres pisan, Kang.” jawabnya, mengafirmasi bahwa kekuatan santri tidak semata-mata bertumpu pada pengakuan formal, tetapi juga pada ilmu, akhlak, perjuangan, dan pengabdian nyata bagi umat serta bangsa.
Amo kemudian menjelaskan bahwa pengakuan negara melalui undang-undang memang dapat menjadi landasan, tetapi kekuatan santri yang sesungguhnya terletak pada ilmu yang diamalkan, akhlak yang dijaga, perjuangan yang diteruskan, dan pengabdian yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Santri menguatkan negeri bukan sekadar karena adanya pengakuan melalui undang-undang, tetapi karena ilmu, akhlak, perjuangan, dan pengabdian nyata bagi umat dan bangsa. Regulasi bisa menjadi landasan, tetapi kualitas santri ditentukan oleh bagaimana ia mengamalkan ilmunya, menjaga amanah, serta memberikan manfaat bagi masyarakat,” paparnya, membedakan pengakuan formal dari tanggung jawab nyata dalam menjalankan nilai-nilai kesantrian.
Ia menilai santri hari ini mempunyai tanggung jawab untuk menghadirkan karya dan solusi bagi Indonesia yang lebih gemilang. Sejarah perjuangan santri harus menjadi pijakan untuk melangkah ke masa depan, bukan sekadar kebanggaan yang berhenti pada pengenangan masa lalu.
“Santri hari ini adalah bagian dari penentu masa depan bangsa. Semoga santri tidak hanya bangga dengan sejarah perjuangannya, tetapi juga mampu menghadirkan karya dan solusi untuk Indonesia yang lebih gemilang. Santri bukan sekadar pewaris masa lalu, melainkan penggerak perubahan untuk masa depan,” tegasnya, mengarahkan perjuangan santri pada kerja nyata dan pembaruan yang bermanfaat.
Ketika diajukan rumusan, “Mandiri dalam ilmunya, mandiri dalam kemajuan ekonominya, berbakti untuk kedua orang tua, berdaya bagi umat dan agamanya, kritis atas pengetahuannya,” Kang Amo menyatakan persetujuannya.
Rumusan tersebut menempatkan santri sebagai pribadi yang tidak hanya dituntut menguasai ilmu, tetapi juga mampu membangun kemandirian ekonomi, menjaga hubungan dengan orang tua, memberi manfaat bagi umat, dan menggunakan pengetahuannya secara kritis serta bertanggung jawab.
“Cocok,” jawabnya, menyetujui gagasan yang menempatkan kemandirian, tanggung jawab moral, keberdayaan sosial, dan daya kritis sebagai bagian dari karakter santri.
Sebagai bagian dari kemeriahan peringatan Hari Santri Nasional 2026, kegiatan jalan santai HSN PCNU Karawang juga menghadirkan berbagai hadiah doorprize bagi peserta. Hadiah utama berupa umrah untuk tiga orang pemenang, disertai ratusan hadiah lainnya, di antaranya sepeda listrik, kipas angin, dan berbagai hadiah menarik lainnya.
Hari Santri Nasional 2026 diperingati pada Kamis, 22 Oktober 2026.
