DARI TARUMANAGARA HINGGA KARAWANG MODERN, MILANGKALA KE-393 JADI MOMENTUM MERAWAT JEJAK PERADABAN, KANG HES: BUKAN SEKADAR TONTONAN, TAPI TUNTUNAN EDUKASI

Share

Breakthenews | Kabar Negeri | suaraindonesiatv.com | ApakabarJabar | “BergerakBhakti KA” KARAWANG — Dari jejak Tarumanagara hingga wajah Karawang modern, perjalanan panjang peradaban menjadi bagian penting yang kembali dihadirkan dalam momentum Milangkala Kabupaten Karawang ke-393. Helaran budaya tidak hanya menjadi ruang kemeriahan perayaan, tetapi juga menjadi medium untuk merawat ingatan sejarah, memperkuat literasi masyarakat, serta menghadirkan edukasi bagi generasi muda Karawang.

Dalam wawancara kepada media, Ketua DPRD Kabupaten Karawang, H. Endang Sodikin, menyampaikan bahwa konsep budaya yang dihadirkan dalam Milangkala ke-393 membawa masyarakat menyusuri perjalanan Karawang dari abad ke abad, mulai dari masa Kerajaan Tarumanagara hingga perkembangan Karawang pada masa kini dan modernisasi di bawah pemerintahan Bupati Karawang H. Aep Syaepuloh.

“Alhamdulillah budaya kali ini memang dari abad ke abad dan dari masa ke masa, di mana dimulainya Kerajaan Tarumanagara pada abad ke-3 sampai dengan masa kini dan modernisasinya, bupatinya adalah Bapak H. Aep Syaepuloh,” demikian H. Endang Sodikin menyampaikan refleksinya kepada jurnalis, menempatkan perjalanan sejarah sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari wajah Karawang hari ini.

Menurut H. Endang Sodikin, helaran budaya yang digelar dalam momentum Hari Jadi Kabupaten Karawang ke-393 tidak semestinya berhenti sebagai pertunjukan yang hanya dinikmati secara visual oleh masyarakat. Di balik pementasan tersebut terdapat pesan edukasi, informasi, dan upaya membangun pemahaman bersama mengenai sejarah daerah.

“Dan tentu ini bukan hanya sekadar tontonan tapi melainkan edukasi informasi dan pemberitahuan agar menjadi pembiasaan termasuk pemahaman yang sama adalah dari seluruh masyarakat Kabupaten Karawang,” lanjutnya, menegaskan bahwa panggung kebudayaan dapat menjadi ruang pembelajaran publik untuk mengenalkan kembali perjalanan sejarah Karawang kepada masyarakat.

Ia juga menyoroti pentingnya penguatan literasi sejarah di tengah masyarakat. Menurutnya, pemahaman sejarah yang belum berkembang secara masif dapat memengaruhi cara masyarakat dalam membaca dan memahami perjalanan daerahnya sendiri.

“Karena kondisi literasi Kabupaten Karawang belum banyak yah, belum sangat masif maka secara otomatis dengan kondisi ini akan mempengaruhi pemahaman terhadap literasi terhadap masyarakat,” jelasnya dalam pandangannya, sekaligus menekankan perlunya ruang-ruang edukasi yang mampu mendekatkan sejarah kepada kehidupan masyarakat.

Dalam konteks itulah, Kirab Budaya Milangkala Kabupaten Karawang ke-393 yang dilaksanakan pada malam Jumat, 18 September 2026, dipandang sebagai salah satu upaya untuk menerjemahkan perjalanan sejarah Karawang ke dalam bentuk pementasan yang dapat disaksikan langsung oleh masyarakat.

H. Endang Sodikin menjelaskan, pementasan tersebut berupaya memberikan pemahaman mengenai sejarah awal keberadaan peradaban di Kabupaten Karawang hingga berbagai fase perjalanan yang membentuk daerah tersebut sampai dengan masa kini.

“Pementasan Kirab Budaya Milangkala Kabupaten Karawang ka-393 pada malam Jumat tanggal 18 September tepatnya malam tadi adalah perayaan yang tujuannya memberikan pemahaman terjemahan asli dari prasejarah awalnya keberadaan peradaban tertua di Kabupaten Karawang,” urai H. Endang Sodikin, menggarisbawahi bahwa sejarah perlu diterjemahkan ke dalam bentuk yang dekat dengan masyarakat agar tidak berhenti sebagai catatan masa lampau.

Dalam perjalanan sejarah yang ditampilkan tersebut, terdapat sejumlah jejak penting yang turut dikenalkan kepada masyarakat, termasuk keberadaan Syekh Quro, perjalanan para adipati dan bupati pertama Kabupaten Karawang, hingga perkembangan pemerintahan dan kehidupan masyarakat Karawang pada masa kini.

Bagi generasi muda, pengenalan terhadap rangkaian sejarah tersebut menjadi penting agar proses modernisasi tidak membuat masyarakat semakin jauh dari akar sejarah dan kebudayaannya sendiri.

Antusiasme masyarakat yang memadati sepanjang Jalan Tuparev hingga Kertabumi juga memberikan gambaran bahwa ruang kebudayaan masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat Karawang. Helaran tersebut menjadi ruang perjumpaan antara masyarakat dengan kisah sejarah daerahnya sendiri yang dikemas melalui pertunjukan budaya.

Karawang yang kini dikenal sebagai salah satu kawasan industri besar di Jawa Barat, pada saat yang sama memiliki perjalanan panjang sebagai daerah agraris dan pangan. Karena itu, perkembangan industri dan modernisasi perlu tetap berjalan dengan kesadaran terhadap sejarah, budaya, lingkungan hidup, serta karakter masyarakat Karawang.

Dalam perspektif tersebut, kebudayaan tidak hanya menjadi simbol masa lalu. Kebudayaan dapat menjadi jembatan yang menghubungkan sejarah dengan pembangunan masa kini dan arah masa depan daerah.

Momentum Hari Jadi Kabupaten Karawang ke-393 pun menjadi ruang refleksi bahwa kemajuan daerah tidak semata-mata berbicara mengenai pembangunan fisik dan modernisasi, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat mampu mengenali, memahami, serta menjaga akar peradaban yang telah membentuk identitas Karawang.

H. Endang Sodikin kemudian menegaskan kembali makna utama pelaksanaan Kirab Budaya tersebut sebagai bagian dari upaya menjadikan Hari Jadi Kabupaten Karawang sebagai momentum edukasi bagi masyarakat.

“Ini adalah upaya bagaimana di hari jadi Kabupaten Karawang yang ke-393 ini yang menjadikan momentum bukan hanya sekadar tontonan akan tetapi menjadi tuntutan edukasi buat warga masyarakat Karawang yang kami cintai ini,” tandasnya dalam penegasan akhir, menempatkan kebudayaan sebagai sarana edukasi sekaligus ruang untuk memperkuat kesadaran masyarakat terhadap sejarah daerah.

Semangat merawat jejak peradaban tersebut juga memiliki keterkaitan dengan perkembangan penelitian sejarah dan arkeologi di Karawang.

Update terbaru pada 11 September 2026 mengenai penelitian Candi Damar atau Candi Segaran III A di Kawasan Cagar Budaya Nasional Batujaya, Karawang, menunjukkan hasil yang dinilai sangat signifikan.

Penelitian tersebut dipimpin oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Barat di bawah Kementerian Kebudayaan, dengan melibatkan kolaborasi tim arkeolog dan mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI).

Keberadaan penelitian tersebut semakin memperlihatkan bahwa Karawang memiliki kekayaan jejak peradaban yang masih terus dikaji. Kawasan Batujaya tidak hanya menyimpan tinggalan arkeologis, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan panjang sejarah peradaban yang perlu dipahami secara ilmiah dan dilestarikan secara berkelanjutan.

Namun, penjelasan mengenai kesimpulan penelitian Candi Damar tersebut masih menjadi pembahasan serius. Persoalannya bukan hanya bagaimana kawasan tersebut dipahami sebagai simbol prasejarah dan jejak peradaban masa Tarumanagara, tetapi juga bagaimana kekayaan sejarah itu dapat memberikan dampak yang lebih luas terhadap kehidupan masyarakat.

Warisan peradaban tersebut pada akhirnya diharapkan tidak berhenti sebagai simbol sejarah, melainkan dapat diterjemahkan menjadi kekuatan edukasi, kebudayaan, serta potensi yang memberikan manfaat terhadap ekonomi masyarakat dan turut mendukung daya saing bangsa.

Sebagaimana substansi publikasi TikTok BPK Jabar Tandang, pembahasan mengenai penelitian tersebut menjadi bagian penting dalam melihat bagaimana peninggalan sejarah dapat memiliki relevansi yang lebih luas bagi masyarakat dan masa depan.

Dari Tarumanagara hingga Syekh Quro dan perjalanan prasejarah yang kemudian dikenal sebagai Kerajaan Pajajaran di bawah kepemimpinan Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi) yang berpusat di Pakuan Pajajaran (Bogor), serta dari perjalanan para adipati dan bupati pertama Karawang hingga jejak Candi Damar Candi Jiwa yang berada di kawasan Kompleks Batujaya, seluruhnya menjadi mozaik panjang perjalanan Karawang yang terus menemukan maknanya dari masa ke masa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!