| Kabar Jabar | suaraindonesiatv.com | Merawat Persatuan Kebhinekaan | KARAWANG — “Gema doa di malam renungan, terpanjatkan tangan-tangan yang menyatukan hati kepada Sang Pencipta.
Di sanalah tersimpan kisah dan rindu kepada mereka yang dicintai. Malam yang menghangatkan, dari tangan-tangan yang memberi kekuatan, doa-doa terlantun untuk kekasih hidup dan kekasih semasa ia hidup.”Dear to you, you are the love that unites religious people.”
Petikan puisi dari suaraindonesiatv.com tersebut menjadi pembuka suasana dalam pelaksanaan tahlil ke-7 Almarhum keluarga besar Kang Emay Ahmad Maehi, S.Ag., S.H., M.Pd.I. yang digelar di Pondok Pesantren Bani Ali, Dusun Blok Kraton, RT 24 RW 05, Desa Rengasdengklok, Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang,” 29/3/2026. Malam Ahad.
Malam yang penuh kekhusyukan itu menjelma menjadi ruang spiritual yang mengikat hati dalam satu tujuan, memanjatkan doa kepada Allah SWT. Lantunan tahlil dan dzikir yang bergema menjadi ungkapan cinta yang tak terputus, sekaligus pengantar harapan bagi almarhum agar senantiasa mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya.

Suasana haru semakin terasa dengan kehadiran sejumlah tokoh Kabupaten Karawang yang turut memberikan doa dan dukungan moral.
Di antaranya Ihsanudin, M.Si., Kang Ace Sudiar, S.Si., unsur Dewas Petrogas Karawang, Eks Wakil Bupati Karawang H. Ahmad Zamakhsyari, para pimpinan pondok pesantren termasuk KH. Agus Fudholi, tokoh masyarakat, perwakilan Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA), PMII Karawang, Alumni Keluarga Karawang Yogyakarta, BPK Ormas Oi Kabupaten Karawang, pengurus KADIN Karawang, serta masyarakat setempat.
Kehadiran lintas elemen tersebut mencerminkan kuatnya nilai ukhuwah Islamiyah yang hidup di tengah masyarakat. Dalam satu majelis doa, seluruh perbedaan melebur menjadi kekuatan spiritual yang menghadirkan ketenangan, kebersamaan, dan keberkahan.
Dalam sesi wawancara daring, Dr. Siti Hamimah, S.H., M.H., akademisi hukum dari Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA), menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini bukan sekadar tradisi, melainkan sarana memperkuat keimanan dan kesadaran akan hakikat kehidupan.
Doa, menurutnya, adalah jembatan ruhani yang menghubungkan yang hidup dengan yang telah berpulang.
Ia juga menegaskan bahwa kebersamaan dalam doa mencerminkan nilai-nilai luhur Islam seperti ukhuwah, empati, dan kepedulian sosial.
Momentum tahlil menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia bersifat sementara, sementara doa dan amal kebaikan akan terus mengalir sebagai pahala yang abadi.
Lebih jauh, ia memaknai kerinduan kepada sang kakak nya itu sebagai bagian dari cinta yang disempurnakan melalui doa dan keikhlasan.
Dalam Islam, setiap doa yang tulus menjadi bukti bahwa hubungan kasih sayang tidak terputus oleh kematian.
Di penghujung acara, doa-doa yang terpanjat menjadi saksi bahwa dalam setiap kehilangan, terdapat kekuatan untuk bangkit dalam keimanan.
Tahlil ke-7 ini bukan hanya menjadi penghormatan bagi almarhum, tetapi juga menjadi penguat bagi keluarga yang ditinggalkan,bahwa dalam naungan iman, doa akan selalu menjadi cahaya yang menuntun langkah menuju ridha Allah SWT.
